Loading...

Benih Sawi Korsel dan Kedelai Kanada Dimusnahkan

16:53 WIB | Wednesday, 07-March-2018 | Karantina, Non Komoditi | Penulis : Tiara Dianing Tyas

Benih sawi impor yang siap dimusnahkan Badan Karantina Pertanian

 

 

Sebanyak 300 kg bibit sawi putih asal Korea Selatan dan 1 kg biji kedelai asal Kanada dimusnahkan Badan Karantina Pertanian (Barantan) di Instalasi Karantina Hewan (IKH) Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta, Tangerang, Selasa (6/3).

 

Sebelumnya pada pertengahan Januari 2018, Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta menemukan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) berupa bakteri Pseudomonas Firidiflava yang terbawa media  pembawa bibit sawi putih dan Tobacco Streak Virus (TSV) yang terbawa media pembawa biji kedelai.

 

Dua jenis bakteri ini belum pernah ditemukan di wilayah Indonesia.  Bahayanya, jika tersebar pada tanaman inang dapat merusak produksi tanaman tersebut. Pseudomonas Firidiflava dan TSV merupakan OPTK golongan A1.

 

“OPTK ini adalah bakteri tumbuhan berbahaya yang belum pernah ditemukan di Indonesia dan tidak dapat dibebaskan dengan cara perlakuan,” kata Kepala Balai Besar  Karantina Pertanian Soekarno Hatta, Eliza Suryati Roesli.

 

Media pembawa 300 kg bibit sawi putih diimpor PT East West Seed Indonesia (EWSI), salah satu importir yang telah memiliki Instalasi Karantina Tumbuhan. Sementara 1 kg biji kedelai diimpor PT. Exindo Karsa Agung. 

 

Menurut Eliza, sebenarnya kedua jenis media pembawa ini telah disiapkan Sertifikat Phytosanitary dari negara asal oleh importir. Namun sesuai SOP, karantina Soekarno Hatta tetap wajib melakukan tindakan pemeriksaan karantina terhadap media pembawa tersebut. 

 

Hasil dari pemeriksaan laboratorium, ternyata pada kedua media pembawa tersebut positif ditemukan OPTK Gol.1 Pseudomonas Firidiflava dan TSV. “Andai kami tidak lakukan pemeriksaan laboratorium, karena merasa sudah ada phytosanitary, bisa dibayangkan bagaimana dampaknya. Bakteri berbahaya yang belum ada di Indonesia dapat merugikan produksi pertanian petani kita. Sungguh fatal,” tegasnya.

 

Secara ekonomis Eliza menerangkan bahwa 300 kg bibit sawi putih ini dapat ditanam untuk 600 ha lahan dengan produktivitas 60 ton/ha. Dengan temuan itu, Barantan dapat menyelamatkan 36 ribu ton sawi hasil petani Indonesia atau sekitar Rp 252 miliar. Kerugian bisa lebih besar jika bibit sawi putih ini dijadikan indukan tanaman.

 

Eliza mengatakan, sudah menjadi SOP Barantan untuk melakukan pemeriksaan terhadap semua komoditas pertanian, baik tumbuhan dan hewan beserta produk turunannya yang masuk ke wilayah Indonesia. Hal ini dilakukan dalam rangka mencegah masuk dan tersebarnya Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) dan OPTK ke wilayah Indonesia.

 

Pada pemusnahan kali ini turut dimusnahkan 401,15 kg media pembawa HPHK dan 7,2 kg media pembawa OPTK yang masuk secara illegal dan tidak dilengkapi dokumen karantina, periode penahanan Januari dan Februari 2018. Pemusnahan dilakukan dengan menggunakan incenerator dan disaksikan oleh para pemilik barang.  Tia/DW (Humas Barantan)

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162