Loading...

Bentuk Tim Sergap, Mentan Targetkan Serap 4,4 Juta Ton Gabah

16:56 WIB | Tuesday, 06-February-2018 | Pangan, Komoditi | Penulis : Tiara Dianing Tyas

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat panen di Garut

 

 

Kementerian Pertanian kembali membentuk tim serap gabah petani (sergap) guna menjaga stabilisasi harga gabah di tingkat petani. Tim tersebut ditargetkan bisa menyerap 2,2 juta ton beras petani atau setara 4,4 juta ton gabah hingga Juni 2018.

 

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman saat menggelar panen padi dihamparan lahan seluas 764 ha di Desa Mancagahar, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (6/2) mengatakan, pembentukan tim ini untuk mengantisipasi harga gabah petani yang mulai turun. “Ini sudah keputusan. Kami telah menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian terkait hal itu,” katanya. 

 

Pada acara tersebut Mentan didampingi Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar; Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf; Kasdam III/Siliwangi Brigjen TNI Yosua Pandit Sembiring; Bupati Garut Rudy Gunawan, serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemprov Jabar dan Pemkab Garut.

 

Amran menjelaskan, ada empat skema harga pembelian gabah yang sudah pemerintah terbitkan. Terdiri dari pembelian gabah di luar kualitas, harga pembelian pemerintah (HPP), fleksibilitas, dan komersil.

 

Pembelian di luar kualitas, menurut Amran, untuk mengatasi harga gabah yang kadar airnya tinggi. Selama ini karena kadar air (KA) tinggi, Bulog kesulitan menyerap/membeli gabah petani. “Karena itu, kami langsung memasang 30% (KA). Permentan sudah kami keluarkan. Kalau kadar airnya tinggi, Bulog bisa langsung beli,” katanya.

 

Untuk ketentuan fleksibilitas harga, Amran menjelaskan, nilainya 10% di atas HPP. Berdasarkan Inpres No. 5/2015, HPP untuk gabah kering panen (GKP) Rp 3.700/kg, gabah kering giling (GKG) Rp 4.600/kg dan beras Rp 7.300/kg. “Sedangkan pembelian secara komersil, harganya tergantung hasil diskusi Bulog dengan Tim Sergap dan petani. Jadi tidak ada celah petani dirugikan,” katanya.

 

Pada kesempatan itu, Amran mengungkapkan, saat ini harga gabah di tingkat petani mulai turun. Di Garut, petani mengeluhkan harga sudah turun Rp 700/kg. Harga gabah di tingkat petani di wilayah ini turun dari Rp 5.800 menjadi Rp 4.700/kg GKP.

 

Luas panen pada Februari 2018 di Kabupaten Garut diperkirakan mencapai 22.972 ha dengan produktivitas 6,9 ton/ha. Dengan begitu produksi padi di Kabupaten Garut mencapai 158.506 ton GKG atau setara dengan 99.859 ton beras. Dengan konsumsi beras per bulan di Kabupaten Garut dengan asumsi penduduk 2,5 juta jiwa atau setara dengan 28.266 ton beras.  Dengan begitu, kabupaten ini surplus 71.593 ton beras.

 

Tren penurunan harga tersebut juga terjadi di sejumlah sentra produksi, seperti Sumatera Selatan, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. “Di Sukabumi harga gabah mencapai angka Rp 3.800/kg GKP, kami akan langsung menuju lokasi untuk memastikan Bulog akan membeli harga gabah di tingkat petani di atas HPP,” tuturnya.

 

Penanggung Jawab Upaya Khusus (UPSUS) Swasembada Padi, Jagung dan Kedelai (Pajale) Provinsi Jawa Barat, Banun Harpini juga mengakui, penurunan harga memang karena sudah masuk panen raya. “Kita sekarang sedang kejar-kejaran waktu jangan sampai harga gabah di bawah HPP. Kita sedang upayakan membeli dengan harga fleksibel,” kata Banun yang juga Kepala Badan Karantina Pertanian ini. Tia

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162