Loading...

Berkat Cabai Rawit, Labenne Dapat Untung Berlipat

22:41 WIB | Saturday, 30-June-2018 | Kontak Tani Sukses | Penulis : Kontributor

Petani Cabai Rawit di Ambon, Labenne rasakan untung berlipat

Agribisnis hortikultura ternyata menarik jika ditekuni secara serius. Dari modal tak seberapa, penghasilan berlipat-lipat bisa didapatkan petani. Contohnya, Labenne sang petani Kota Ambon yang dapat untung berlipat berkat cabai rawit.

 

Subsektor hortikultura memiliki beragam jenis komoditas yang memiliki peluang yang luas. Mulai dari bunga, buah-buahan, aneka sayuran, tanaman obat, jamur, bawang merah, bawang putih hingga aneka ragam cabai. Keuntungan yang diperoleh petani pun tidak sembarangan karena mampu berlipat-lipat.

 

Seperti yang dirasakan oleh salah seorang anggota Kelompoktani Bintang Baru di Kelurahan Taenno Bawah Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon Maluku, Labenne. Dirinya fokus membudidayakan cabai rawit merah di lahan tegalan.

 

Dari penanaman sebanyak 6.000 batang cabai rawit varietas Dewata 43, Labenne mampu menghasilkan pendapatan bersih Rp. 120 juta setahun. Padahal, lahan yang dimilikinya hanya seluas 0,3 ha dan bermodalkan Rp 20-30 juta untuk satu kali tanam.

 

“Dengan sistem mulsa, saya bisa panen sampai 20 kali setiap musim tanam dengan hasil rata-rata 1 kilogram per pohon. Dengan harga jual stabil Rp 30 ribu per kilo di petani, jujur saya bisa dapat minimal Rp 120 juta bersih setahun,” ungkapnya.

 

Labenne menegaskan menanam cabai rawit saat ini menjadi pilihan primadona petani di sekitar Teluk Ambon Maluku. Sebab, terbukti hasilnya jauh lebih tinggi dibanding menanam sayuran lainnya. “Sebelumnya kami hanya tanam kacang panjang, hasilnya tidak seberapa. Tapi sejak Kementerian Pertanian gencar menggalakkan program tanam cabai, mulai 2015 hingga saat ini petani memilih tanam cabai,” terangnya.

 

Sekretaris Dinas Pertanian Maluku, Djasmin Badjak menyebutkan Provinsi Maluku saat ini sudah mampu swasembada cabai khususnya untuk jenis cabai rawit merah. Terbukti, puasa dan lebaran kemarin harganya sangat stabil di kisaran Rp 30ribu hingga Rp 40ribu  per kg. “Harganya juga sangat bersahabat dengan petani sehingga mereka semakin semangat mengembangkan cabai rawit,” sebutnya.

 

Berdasarkan data Dinas Pertanian Maluku, hingga kini kebutuhan cabai rawit di Kota Ambon per tahun sekitar 750 ton. "Seluruhnya bisa dipenuhi petani lokal Maluku terutama dari daerah Teluk Ambon, Pulau Buru dan Seram,” tukasnya.

 

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Prihasto Setyanto yang meninjau langsung kawasan Cabai Teluk Ambon, Sabtu (30/6) mengaku bangga dengan petani yang gigih menanam cabai. Contoh petani sukses seperti Labenne ini membuktikan menanam cabai itu sangat-sangat menguntungkan. “Dengan catatan, petani harus mau berkelompok dan mau menerapkan manajemen  pola tanam supaya pasokan dan harga bisa dijaga stabil,” tegasnya. (gsh)

 

 

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162