Loading...

Berkat Peremajaan, Produktivitas Kakao Meningkat

15:44 WIB | Monday, 09-October-2017 | Komoditi, Kebun | Penulis : Clara Agustin

Tanaman kakao di Indonesia sebagian besar sudah harus diremajakan. Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat di antara daerah yang telah melakukan peremajaan tanaman kakao dan hasilnya sudah mulai dirasakan, yakni terjadinya peningkatan produksi dan produktivitas.

 

Seperti yang diceritakan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) asal Padang Pariaman, Reci Cani setelah adanya peremajaan produktivitas pertanaman kakao rakyat mengalami peningkatan hingga berkali-kali lipat.

 

“Setelah dilakukan peremajaan sekarang buahnya besar-besar. Cukup 20 buah mampu menghasilkan 1 kg biji kakao kering. Sedangkan sebelum diadakan peremajaan 45 buah baru menghasilkan 1 kg biji kakao kering,” jelas Reci.

 

Peremajaan dilakukan dengan cara sambung samping dan sambung pucuk, varietas yang digunakan merupakan varietas unggul kakao, BL 50. Padahal sebelumnya kakao yang ditanam adalah varietas lokal yang entah darimana asalmuasalnya.

 

Peningkatan performa kebun kakao rakyat di Kabupaten Padang Pariaman di samping karena dilaksanakannya program peremajaan oleh pemerintah, menurut Reci Cani, juga didukung adanya pembinaan dari Swisscontact Indonesia, di mana program utama dari Swisscontact Indonesia adalah The Sustainable Cocoa Production Program (SCPP). “Pembinaan dari Swisscontact Indonesia ini berupa Sekolah Lapang Kakao,” tambah Reci.

 

Sentra produksi kakao di Kabupaten Padang Pariaman ada di Kec. Lubuk Alung, V Koto Timur, Sungai Geringging, dan IV Koto Aur Malintang. “Harga di tingkat petani di daerah tersebut lebih mahal karena penjualannya dalam bentuk fermentasi. Dulu biasanya hanya dihargai Rp 16-18 ribu per kg, tetapi setelah difermentasi harganya meningkat drastis menjadi Rp 32 ribu per kg,” tutur Reci.

 

Walaupun komoditas kakao di Padang Pariaman mulai bangkit kembali, tetap saja ada kendala, yakni masalah pengolahan. Reci mengatakan, selama ini petani hanya mengolah sampai fermentasi saja karena keterbatasan alat/mesin pengolahan kakao. “Jadi kami berharap ada bantuan sarana pengolahan kakao untuk Kabupaten Padang Pariaman agar petani bisa memperoleh nilai tambah,” kata Reci. Cla/Ira

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162