Loading...

Berpikir Out of The Box untuk Kemajuan Pertanian

16:38 WIB | Monday, 06-November-2017 | Nusantara | Penulis : Gesha

Kaum milenial kini tengah mendominasi di berbagai sektor, tak terkecuali pertanian. Inovatif dan berpikir out of the box  sangat dibutuhkan agar pertanian tidak jalan di tempat. Terlebih lagi saat tahun 2045 saat Indonesia Merdeka berusia 100 tahun, generasi-generasi tersebutlah yang akan menjadi figur pemimpin. 

 

“Kaum milenial janganlah menjadi job seeker, tapi job creator. Jangan hanya berpikir hari ini, tetapi berpikirlah 2045,” tegas anggota Komisi IV DPR RI, Ichsan Firdaus ketika memotivasi puluhan taruna Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Bogor, Sabtu (4/11).

 

Ichsan menambahkan, generasi milenial ini perlu mengujicoba "kenakalan otak" melalui inovasi dan impian pertanian di tahun 2045. Karena itu, mahasiswa jangan berpikir simetris maupun linier.  “Jangan pula meratapi keadaan hari ini. Tapi bangunlah mimpi tersebut,” ujarnya.

 

Bisa saja, Taruna yang lulus dari STPP menjadi enterpreneur maupun inventor yang menciptakan inovasi baru di sektor pertanian. Apalagi beragam masalah sudah sejak lama membelit pertanian. Bahkan harus bisa dicarikan solusi segera dan diselesaikan hingga 2045. “Menteri Pertanian pun menargetkan jika 2045 Indonesia menjadi lumbung pangan dunia, maka generasi inilah yang menjadi pelaksana impian tersebut,” harap Ichsan.

 

Menurutnya, generasi milenial ini harus dipersiapkan sebagai bentuk regenerasi sumberdaya manusia pertanian. Khusus STPP Bogor yang mencetak penyuluh handal, generasi milenial tersebut dipersiapkan untuk mampu membimbing petani berkelompok lebih luas dan berorientasi ekonomi agar bisa membawa kesejahteraan petani. 

 

Penelitian yang pernah dilakukan Ichsan, kepemilikan sawah di tingkat petani umumnya hanya 1/4 ha dan ongkos produksi menjadi lebih mahal dibandingkan petani berkelompok usaha. Ongkos produksi rata-rata Rp 12 juta/ha. Tapi kalau petani bersatu dalam sebuah berkelompok, maka ongkos produksi bisa ditekan sampai Rp 8 juta/ha.

 

“Keuntungan otomatis pun meningkat. Kelembagaan petani merupakan kunci dari peningkatan produksi pertanian,” katanya. Namun dia mengingatkan, kelembagaan petani pun sebaiknya dibentuk bukan hanya berorientasi pada program bantuan semata tetapi demi keberlanjutan usaha sektor pertanian. Gsh

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162