Loading...

Bioindustri Cara Cerdas Bangun Perkebunan Rakyat Sulbar

11:39 WIB | Monday, 17-October-2016 | Teknologi, Inovasi Teknologi | Penulis : Kontributor

Di saat krisis ekonomi melanda Dunia, sektor perkebunan seperti kopi, kakao, kelapa dalam dan kelapa sawit merupakan salah satu andalan bagi devisa negara kita. Bahkan pada beberapa tahun terakhir ini kakao dan kopi sama sekali  tidak terpengaruh oleh perubahan atau krisis ekonomi dan harganya tetap stabil malah kian meningkat.

 

Kondisi ini sangat dirasakan oleh daerah Sulawesi Barat yang merupakan provinsi baru hasil pemekaran dari provinsi Sulawesi Selatan. Sektor unggulan daerah berupa perkebunan yang  berasal dari komoditi berupa kakao, kelapa dalam, kopi dan kelapa sawit.

 

Pemerintah Provinsi Sulbar menyatakan bahwa perkebunan kakao di Provinsi Sulawesi Barat melibatkan 65% KK dari 1,5 juta penduduk provinsi ini.  Perkebunan menyerap  49.7% lapangan kerja penduduk Sulbar yang sebgaian besar perkebunan milik rakyat.

 

Saat ini masyarakat petani di Sulawesi Barat sangat menikmati harga kakao kering yang di tingkat petani mencapai 35 ribu rupiah/kg (non fermented) sampai 45 ribu rupiah/kg (fermented), serta harga kopra di tingkat petani yang mencapai 10-15 ribu rupiah/kg (kopra hitam) dan Rp 20 ribu rupiah/kg (kopra putih). Juga harga kopi mentah yang berkisar antara 25-30  ribu rupiah/kg (robusta dan arabika) hasil petani Mamasa, di Sulbar. Itulah  yang menyebabkan NTP (Nilai Tukar Petani) Sulbar merupakan yang tertinggi di Indonesia.

 

BPS merilis NTP Sulbar Agustus 2016 adalah 107,93 yang merupakan tertinggi se-Indonesia dan Pertumbuhan Ekonomi Sulbar sampai dengan Triwulan II 2016 tumbuh positif  6,18 persen jauh di atas pertumbuhan nasional yang hanya 5,18. Ini menunjukkan kinerja ekonomi daerah ini yang di topang oleh sektor perkebunan sangatlah baik.

 

Menurut data BKPMD Sulbar, komoditi unggulan perkebunan Sulbar didominasi oleh kakao (101.011 ton), kelapa sawit (702.755 ton), kelapa dalam (56.502 ton) dan kopi (9.364 ton). Tanaman kakao mempunyai luas panen terluas yaitu 181.516 ha, namun dengan lahan seluas tersebut perlu mendapat perhatian lebih serius lagi untuk meningkatkan produktivitasnya. Kelapa sawit mempunyai luas panen 53.370 ha dan akan terus berkembang seiring dengan dibukanya 6 pabrik CPO baru di wilayah ini.

 

Sedangkan perkebunan kelapa dalam dengan luas panen 49.587 ha tersebar hampir merata di sepanjang pesisir Sulawesi Barat, baru dapat dimanfaatkan secara tradisional sebagai bahan baku kopra, sedangkan produk ikutannya belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Luas pengembangan kopi saat ini telah mencapai 23.419 ha.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162