Loading...

Bioteknologi Bukan Sebatas Rekayasa Genetika

17:02 WIB | Tuesday, 30-January-2018 | Teknologi, Iptek | Penulis : Clara Agustin

Berbicara tentang  bioteknologi biasanya pikiran orang  mengarah kepada rekayasa genetika, padahal sebenarnya bioteknologi ini aspeknya sangat luas, bukan sebatas pada kegiatan rekayasa genetika.

 

“Bioteknologi sudah ada sejak dahulu. Pembuatan  roti atau keju itu merupakan upaya menghasilkan produk bioteknologi,” kata Dosen  Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (IPB), Bayu Krisnamurthi pada  acara Seminar Refleksi dan Masa Depan Bioteknologi  di Jakarta, senin (29/1).

 

Arti bioteknologi adalah penerapan pada prinsip-prinsip di bidang ilmu seperti biologi, biokimia, dan juga rekayasa dalam proses melakukan suatu pengolahan bahan-bahan dengan cara memanfaatkan berbagai jasad hidup maupun komponen-komponennya  untuk menciptakan barang dan juga jasa.

 

“Tempe saja yang menurut kita merupakan pangan dengan proses produksi  sederhana, sesungguhnya  merupakan produk bioteknologi,” jelas Bayu.

 

Ia menekankan, dengan menerapkan bioteknologi di bidang pertanian hasil panen bisa ditingkatkan  hingga 22 persen, penggunaan pestisida turun hingga 37 persen dan keuntungan petani akan meningkat 68 persen.

 

 “Yang jelas bisnis bioteknologi itu sangat menguntungkan, asalkan kita telah menguasai riset, teknologi dan infrastrukturnya, termasuk di dalamnya paten dan orang-orang yang terlibat di dalam bioteknologi,” jelasnya.

 

Direktur Indonesia Biotechnology Information Center (IndoBic), Bambang Purwantara mengatakan bahwa bioteknologi itu aspeknya sangat luas, tetapi sekarang lebih mengarah pada pertanian terutama pangan transgenik, lingkungan dan pakan.

 

 “Memang produk pangan transgenik ini masih diperdebatkan hingga saat ini. Tetapi kita harus ingat, bahwa kita mengkonsumsi kedelai impor, itu adalah kedelai transgenik,” jelas Bambang.

 

Ketua Komisi Perlindungan Hayati, Agus Pakpahan mengatakan bahwa hingga kini terdapat produk bioteknologi yang telah mendapatkan persetujuan keamanan pangan di Indonesia, yakni tebu  tahan kekeringan dan jagung toleran herbisida.

 

“Kedua produk tersebut  sedang menunggu persetujuan untuk rilis komersial agar memenuhi persyaratan untuk dibudidayakan  di Indonesia bagi kepentingan petani,” katanya. Cla/Ira

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162