Loading...

BKIPM Gerak Cepat Amankan Arapaima di Sungai Brantas

17:59 WIB | Tuesday, 26-June-2018 | Karantina | Penulis : Gesha

Arapaima sp yang ditemukan di Sungai Brantas (dok.Riska)

Media sosial sempat heboh dengan penemuan ikan predator Arapaima sp di Sungai Brantas. Ikan berukuran raksasa ini tergolong Invasif species yang dikhawatirkan memangsa ikan endemik sungai. Karena itu, Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (Badan KIPM), Kementerian Kelautan dan Perikanan langsung gerak cepat mengamankan dan mencari ikan invasif tersebut.

 

Pemberitaan ikan raksasa tersebut semakin viral saat akun facebook Firman Smiledevils Noor menggunggah cuplikan instagram stories dari akun @angelrtanzil pada tanggal 25 Juni 2018. Dalam IG stories tersebut, proses pelepasan terlihat dilakukan dengan sengaja di Sungai Brantas. Bahkan dalam salah satu unggahannya, @angelrtanzil sempat menyebut dirinya sudah berkonsultasi dengan polisi dan tidak ada pelarangan "membuang ikan".

 

Sontak saja video tersebut memantik kegeraman warganet yang mengerti bahwa ikan jenis Arapaima sp termasuk ikan predator dan tergolong invasif species serta membahayakan ikan endemik di sungai setempat.

 

Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (Badan KIPM), Kementerian Kelautan dan Perikanan khususnya Pusat Karantina Ikan (Puskari) langsung berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumberdaya Alam , Provinsi Jawa Timur serta Dinas Perikanan Kabupaten Mojokerto untuk mengamankan dan mengumpulkan beragam keterangan.

 

"Ikan Arapaima termasuk salahsatu dari 152 jenis ikan berbahaya yang dilarang pemasukannya di Wilayah NKRI, sesuai dengan Permen KP No41/2014 tentang Larangan Pemasukan Jenis Ikan Berbahaya dari Luar Negeri Ke Wilayah NKRI," ungkap Kepala Pusat Karantina Ikan, Riza Priyatna.

 

Kegiatan "pembuangan ikan" juga dilarang dalami UU No 31/2004 Pasal 12 (1), dimana setiap orang dilarang untuk melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan atau kerusakan sumberdaya ikan dan atau lingkungannya di wilayah perairan Indonesia.

 

Tak hanya itu, setiap warga negara Indonesia juga dilarang untuk membudidayakan ikan yang dapat membahayakan sumberdaya ikan, lingkungan dan kesehatan manusia di seluruh wilayah perairan Indonesia sesuai UU No 31/2004 Pasal 12 (2).

 

Berdasarkan keterangan yang telah dihimpun Puskari, pemilik ikan Arapaima sp tersebut adalah H. Pursetyo yang beralamat di Perum Citra Harmoni, Taman Trosobo, Surabaya. Adapun jumlah Arapaima yang dimiliki sejumlah 30 ekor dengan rincian, 18 ekor  berada di penampungan pemilik di Surabaya, 4 ekor diserahkan kepada masyarakat dan 8 ekor dilepaskan di Sungai Brantas.

 

"Ikan yang diserahkan ke masyarakat masih dalam pencarian. Sedangkan yang di Sungai Brantas, 7 ekor sudah ditangkap kembali dengan rincian 6 ekor ditangkap masyarakat dan dimakan ramai-ramai, 1 ekor mati dan sudah diamankan di Kantor Desa Mlirip Rowo Mojokerto. Tapi yang 1 ekor lagi masih dalam penangkapan," papar Riza.

 

Sanksi Hukum

 

Mengenai sanksi hukum yang akan diberlakukan, Riza menuturkan pihaknya masih akan mendalami peristiwa ini lebih lanjut. Termasuk kemungkinan pembinaan pada penghobi ikan predator terkait sadar karantina ikan agar peristiwa serupa tidak terulang lagi,

 

Namun untuk diketahui, pelaku pencemaran dengan motif membuang ikan pada wilayah perairan Indonesia ini terbukti melanggar UU 31/2004 sebagaimana pasal 12 (1) akan terancam pidana penjara selama 10 tahun dengan denda maksimal Rp 2 milliar.

 

Sedangkan apabila terbukti dengan sengaja melakukan kegiatan pembudidayaan (termasuk memelihara, mengembangbiakkan, serta memanen hasilnya dalam lingkungan terkontrol hingga termasuk pada kegiatan memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, mengolah dan atau mengawetkannya), pelaku terancam pidana penjara selama 6 tahun penjara dan denda maksimal Rp 1,5 miliar. (gsh)

 

 

 

 

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162