Loading...

Buah Nusantara Go Global

16:51 WIB | Tuesday, 13-December-2016 | Sorotan | Penulis : Ahmad Soim

Buah Nusantara Go Global. Ungkapan tersebut disampaikan Presiden RI, Joko Widodo saat membuka Fruit Indonesia 2016, di Parkir Timur Senayan, beberapa waktu lalu. Pertanyaan selanjutnya, sejauh manakah kemampuan buah nusantara menembus pasar global?

 

anpa alasan. Secara potensi, buah nusantara memang tidak perlu diragukan lagi. Karena itu harusnya bangsa Indonesia tak perlu lagi mengimpor buah, terutama buah-buah tropis. “Sudah bertahun-tahun masa buah masih kita impor. Kalau produksinya bisa kita kuatkan di dalam negeri saya kira buah-buah impor bisa mental,” kata Jokowi.

Catatan Kementerian Pertanian, Indonesia termasuk 20 negara yang produksi buahnya mendominasi perdagangan dunia. Tahun 2014, tercatat jumlah produksi buah nasional untuk jenis jeruk sebanyak 1.999 ribu ton, durian 856 ribu ton, mangga 2.464 ribu ton, alpukat 306 ribu ton, nanas 1.874 ribu ton, rambutan 733 ribu ton, salak 1.036 ribu ton, pisang 1.008 ribu ton, pepaya 830 ribu ton, melon 184 ribu ton dan semangka 684 ribu ton.

“Saya sangat mengapresiasi langkah yang telah ditempuh selama ini dan jangan pernah lelah untuk terus berusaha agar buah nusantara bisa Go Global,” kata Presiden. Namun Jokowi berpesan agar potensi buah nusantara ini benar-benar dikerjakan dan dikelola sebaik-baiknya.

“Kalau kelapa sawit bisa dikelola sampai 14 juta ha, mestinya buah-buahan juga bisa mencapai angka seperti sawit. Kalau itu dilakukan dengan betul-betul, maka pasar buah dunia bisa dikuasai Indonesia,” tutur Jokowi.

 

Dongkrak Produksi

Dari sisi keeksotikan, buah nusantara memang tak kalah dengan produk impor. Bahkan beberapa jenis termasuk sangat eksotik, seperti manggis dan salak. Karena itu dua jenis buah tersebut yang kini telah mampu menembus pasar ekspor.

Hingga kini sudah banyak buyer (perantara pembeli) luar negeri yang menginginkan buah tropis khas Indonesia. Seperti yang diungkapkan buyer asal Belanda, Fons H.J.M Arents, buah manggis dan rambutan dari Indonesia paling dicari di negara kawasan Eropa dan Timur Tengah.

Data Direktorat Buah dan Florikultur, Kementerian Pertanian, beberapa jenis komoditas yang sudah menembus pasar ekspor antara lainnya adalah nanas, mangga, manggis, salak, melon, semangka, rambutan dan alpukat. Sayangnya, selama ini yang menjadi kendala adalah keberlanjutan (kontinuitas) pasokan.

Untuk mendukung pasokan buah, bukan hanya untuk kon­sumsi dalam negeri, tapi juga tujuan ekspor, Kementerian Per­tanian selama lima tahun terakhir terus menerus melakukan per­baikan produksi. Dari mulai pengembangan bibit unggul, cara budidaya, penanganan penyakit termasuk perluasan lahan ker­jasama dengan beberapa pihak lainnya.

Penumbuhan sentra produksi dilakukan melalui berbagai pro­gram, baik pemerintah pusat maupun kabupaten/kota. Dalam pengembangan kawasan buah-buahan, didasarkan pada kesesuian sumberdaya lahan dan agroklimat (jenis dan kesuburan tanah, curah hujan, ketersediaan air, topografi) dengan persyaratan produksi. Selain itu memperhatikan nilai ekonomis, permintaan pasar, fa­silitas pemasaran, kondisi petani dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Kementerian Pertanian kini juga melakukan penataan sentra produksi menjadi kawasan skala komersial yang terintegrasi dengan pelaku usaha. Pengembangan kawasan buah yang telah dikem­bangkan sejak 2011-2016 tercatat seluas 33.438 ha dan paling luas untuk tanaman jeruk sebesar 14.127 ha.

Tahun 2016 ini, Kementerian Pertanian melakukan pengem­bangan kawasan buah seluas 4.102 ha yang dilakukan dalam bentuk pengembangan kawasan reguler skala orchard dan komersial. Peme­rintah akan menggandeng PTPN, swasta, dan perguruan tinggi untuk mempercepat pening­katan mutu dan daya saing buah, membangun kebun buah komersial terintegrasi, dan kebun buah skala orchard.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Ahmad Soim

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162