Loading...

Budidaya Kopi Tetap Produktif Saat La Nina

10:50 WIB | Tuesday, 08-November-2016 | Komoditi, Kebun | Penulis : Kontributor

La Nina membuat musim hujan berkepanjangan. Di satu sisi menguntungkan bagi petani, terutama tanaman pangan. Tapi di sisi lain, justru membuat petani/pekebun lebih repot, tak terkecuali petani kopi.

 

Hujan yang terus mengguyur sepanjang tahun ini mempercepat pertumbuhan wiwilan, gulma dan rimbunnya pohon pelindung. Kondisi itu berimbas pada produksi yang dihasilkan tahun depan. Selain itu, dampak hujan yang tidak terputus membuat waktu panen kopi menjadi terlambat.

 

Salah satu sentra kopi adalah Pulau Bali dengan kopi specialty Kintamani. Secara umum di Pulau Dewata petani mulai panen Juli-Agustus dan September sudah selesai dan hasil panen sudah tersimpan bersih di gudang. Hujan yang masih berlangsung membuat petani panen baru September. Hujan juga membuat petani sulit mengeringkan buah kopi.

 

Penyuluh Pertanian BP4K Kabupaten Tabanan, Bali, Made Widiada mengatakan, dengan kondisi hujan yang tidak menentu petani kopi memerlukan waktu mengeringkan sampai 21 hari, bahkan lebih. Jika cuaca normal, maka pengeringan hanya perlu waktu 8-10 hari.

 

“Kondisi seperti ini membuat petani banyak menjual kopinya dalam keadaan mentah. Selesai panen, petani langsung menjual, tentu dengan harga jauh lebih murah,” katanya.

 

Sedangkan jika petani menjemur belum tentu kering sesuai harapan. Apalagi panen tahun ini sepertiganya dari tahun sebelumnya. Hal ini lantaran tahun 2015 kemarau berkepanjangan yang berdampak pada hasil tahun ini.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162