Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - Budidaya Padi Zaman Now

11:37 WIB | Wednesday, 10-January-2018 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani  - Budidaya Padi Zaman Now

 

Tantangan pembangunan pertanian ke depan semakin berat. Bukan hanya pertumbuhan penduduk terus meningkat, sehingga meningkatkan permintaan terhadap pangan. Namun juga makin sempitnya lahan pertanian akibat maraknya alih fungsi lahan. Belum lagi, tantangan perubahan iklim yang makin sulit diprediksi. 

 

Karena itu untuk memper­tahankan produksi pangan, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian melakukan berbagai upaya. Selain perbaikan infrastruktur pertanian, seperti irigasi dan perluasan areal tanam di luar Jawa, pemerintah juga mengembangkan benih varietas unggul yang spesifik lokasi. Bahkan di zaman now ini, gerakan modernisasi pertanian melalui mekanisasi terus dimasifkan. Misalnya, bantuan berbagai jenis alat mesin pertanian (alsintan).

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), M. Syakir mengakui, dengan luas lahan sawah saat ini hanya 8,1 juta hektar (ha), sulit untuk mempertahankan produksi. Apalagi tantangan peningkatan produksi makin besar.

“Tidak bisa kita hanya betumpu pada 8,1 juta ha lahan sawah yang 4,6 juta ha-nya lahan irigasi. Kita harus bisa kelola lahan lain yang potensial seperti lahan tadah hujan dan lahan rawa,” katanya saat Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi bekerjasama dengan Balai Besar Penelitian Padi, Subang, beberapa waktu lalu.

Karena itu menurut Syakir, harus dikembangkan inovasi teknologi padi terkini mencakup semua komponen. Mulai dari penggunaan varietas padi unggul baru yang merupakan salah satu komponen teknologi padi yang relatif terjangkau, mudah diadopsi petani, dan berperan besar dalam meningkatkan produktivitas.

Balitbangtan telah melepas varietas padi Inpari 42 GSR dan Inpari 43 GSR. Dua varietas itu memiliki keunggulan produktivitas tinggi, efisien penggunaan pupuk dengan penghematan hingga 25% pupuk NPK tanpa menurunkan hasil. Selain itu, lebih tahan terhadap hama penyakit khususnya virus kerdil hampa, serta mutu rasa premium dengan kandungan amilosa 17% dan rendemen lebih tinggi hingga 70%.

 

Varietas Unggul Baru

Di akhir tahun 2017 Balit­bangtan juga telah melepas tiga varietas padi sawah berumur genjah (110 HSS) yang tahan hama penyakit, dua varietas padi gogo yang adaptif di lahan kering dataran tinggi di atas 750 mdpl dan satu padi rawa ketan (kandungan amilosa <5%) yang toleran dan satu padi rawa pasang surut berdaya hasil tinggi toleran keracunan besi dan alumunium.

“Untuk daerah beriklim kering perlu varietas unggul baru. Kita luncurkan Inpago-12 Agritan yang sesuai untuk lahan kering masam. Varietas ini tahan terhadap keke­ringan dan keracunan Al, dengan potensi hasil hingga 10,2 ton/ha,” ungkap Syakir.

Sedangkan untuk lahan perke­bunan yang secara agroekosistem masih bisa untuk usaha tani padi, Balitbang juga meluncurkan varietas Rindang-1 dan Rindang-2. Dua varietas ini toleran terhadap naungan, dikhususkan untuk pengembangan padi di lahan perkebunan muda. “Dua varietas ini kita harapkan dapat mengisi kekosongan agroeksistem, ter­utama di lahan perkebunan. Jadi varietas ini tahan naungan,” katanya.

Untuk daerah pasang surut, Balitbangtan melepas padi varietas Inpara 8 dan Inpara 9 yang tahan terhadap keracunan Fe dan rendaman dengan hasil mencapai 7.4 ton/ha. Lahan rawa pasang surut menurut Syakir, potensinya sangat besar dan sampai kini belum dioptimalkan. “Jadi dengan varietas ini, kita harus bisa optimalkan lahan rawa pasang surut,” ujarnya.

Di samping itu, Balitbangtan melalui Balai Besar (BB) Padi juga telah menghasilkan beberapa varietas unggulan untuk dataran tinggi. Ada dua veriatas yang diperkenalkan yakni Luhur-1 dan Luhur-2 yang sesuai untuk lahan dataran tinggi di atas 750 meter dpl. 

Untuk memproduksi pangan, Syakir mengakui, selama ini masih bertumpu pada dataran rendah. Padahal banyak masyarakat yang hidup di dataran tinggi. Karena itu diperlukan varietas unggul baru yang bisa ditanam di atas 750 meter dpl. “Jadi kita luncurkan varietas Luhur-1 dan Luhur-2 yang cocok untuk dataran tinggi,” katanya.

Varietas unggul lainnya yang dilepas adalah Tarabas. Varietas ini merupakan padi tipe Japonica yang memiliki mutu beras premium dan tekstur nasi sangat pulen dan lengket (sticky rice), dengan kadar amilosa 17%. “Varietas-varietas tersebut merupakan salah satu upaya untuk keluar dari agroekosistem yang selama ini ada yakni lahan sawah seluas 8,1 juta ha,” katanya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162