Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - BUMP, Solusi Angkat Posisi Tawar Petani

11:44 WIB | Wednesday, 08-November-2017 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani - BUMP, Solusi Angkat  Posisi Tawar Petani

 

Korporasi petani kini menjadi salah satu program prioritas pemerintah untuk meningkatkan posisi tawar petani. Salah satu bentuk korporasi itu adalah Badan Usaha Milik Petani (BUMP).

 

Sebagai produsen pangan, petani selama ini memang berada dalam posisi yang daya tawarnya lemah. Di satu sisi petani didorong untuk meningkatkan produksi. Tapi di sisi lain, ketika produksi meningkat, harga justru terjun bebas. 

 

Mantan Deputi BUMN, Agus Pakpahan mengatakan, tanpa adanya kelembagaan seperti BUMP, petani tidak mempunyai kekuatan. Misalnya, petani tebu, meski sudah tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), tapi karena belum memiliki lembaga ekonomi yang besar selalu terkalahkan saat memasarkan produk gula.

“Jadi tidak ada jalan lain, selain membentuk Badan Usaha Milik Petani,” kata Agus saat Diskusi Konsep, Fakta dan Prospek BUMP yang digelar di Tabloid Sinar Tani bekerjasama dengan Yayasan Pertanian Mandiri (Yapari) di kantor Tabloid Sinar Tani, Rabu (1/11).

Menurutnya, banyak keun­tungan dengan petani membentuk BUMP. Di antaranya, dari sisi tenaga, petani bukan hanya sebagai pekerja, tapi juga pemilik saham (usaha). Dengan demikian, petani akan mendapatkan bonus dari usaha BUMP tersebut.

 

Gerakan dari Bawah

Sementara itu mantan Menteri Pertanian, Sjarifuddin Baharsjah mengatakan, BUMP harus merupakan gerakan dari bawah yang dibentuk oleh petani. Namun lembaga usaha petani tersebut harus mendapat dukungan kebijakan dari pemerintah agar bisa berkembang dengan baik.

“Biarkan BUMP berkembang dari bawah dan didukung pemerintah. Saya kuatir kita ingin cepat berkembang dengan diatur pemerintah dan target yang telah ditetapkan, nanti justru tidak berkembang,” tutur Sjarifuddin yang juga Ketua Yapari.

Karena itu menurutnya, BUMP adalah sebuah kelembagaan perekonomian (badan usaha) yang dibentuk dan dikelola oleh petani. Sebab, tujuan dibentuknya BUMP ini adalah untuk meningkatkan pendapatan petani yang hasil akhirnya berimbas kepada kesejahteraan petani. “Dengan adanya BUMP, kesejahteraan petani akan meningkat,” kata Sjarifuddin.

Sjarifuddin menilai, BUMP adalah satu langkah maju dalam menghadapi pertanian saat ini. Dengan adanya lembanga ini akan mampu memberikan jaminan keuntungan untuk petani, sehingga kesejahteraannya pun lebih terjamin. “BUMP ini bentuknya bisa bermacam-macam. Bisa berupa koperasi atau PT (Perseroan Terbatas),” tambahnya.

Untuk BUMP yang berbentuk koperasi, menurut Sjarifuddin, harus sesuai dengan kaidah-kaidah perkoperasian yang berlaku di dalam perundang-undangan di Indonesia. “Kalau menurut saya BUMP yang paling ideal itu berbentuk PT, karena petani mempunyai kewenangan penuh (ada saham). Sedangkan koperasi tergantung dari pendapatannya. Jika koperasi tersebut untung, baru dibagikan ke para anggotanya (dalam hal ini petani),” tuturnya.

Soal usaha BUMP, Sjarifuddin mengatakan, bisa bermacam-macam. Ada tanaman pangan, pupuk, benih, alat dan mesin pertanian (alsintan) serta masih banyak lainnya. Jenis usahanya ini tergantung dari sumber dayanya yang ada. “Bidangnya boleh apa saja, asalkan mengenai pertanian. Seperti di Lamongan itu ada BUMP peternakan yang termasuk sukses,” katanya.

 

Jangan Terburu-buru

Meski BUMP menjadi salah satu solusi tepat untuk meningkatkan kesejahteraan petani, Sjarifuddin mengingatkan, pembentukannya jangan terburu-buru. Diperlukan konsep  yang benar-benar mum­puni agar BUMP tersebut dapat berjalan dengan baik. “Tugas kita sekarang adalah sosialisasi dulu ke petani dan instansi lainnya sembari membentuk konsep yang paling pas. Ketika sudah beres semuanya, baru BUMP bisa dibentuk,” pesannya.

Mantan Sekjen Kementerian Pertanian, Memed Gunawan juga mengingatkan agar jangan cepat-cepat membuat BUMP itu besar. Lebih baik, dari BUMP yang kecil, lalu berkembang menjadi besar. “Kalau kita menciptakan BUMP langsung besar, maka dengan pengalaman petani yang minim, modal terbatas, maka malah akan sulit berkembang,” katanya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162