Loading...

Cahaya Terang Itu Bernama Ekspor Jagung

09:56 WIB | Thursday, 31-May-2018 | Opini | Penulis : Kontributor

Dahulu Indonesia dikenal sebagai salah satu importir terbesar untuk jagung. Kini, seberkas sinar harapan muncul saat pertanaman jagung dalam negeri melimpah ruah dan membuktikan Indonesia mampu ekspor.

 

 

Pada tahun 2015 Indonesia impor jagung sebanyak 3,5 juta ton dengan nilai Rp 10 Trilyun, suatu jumlah devisa yang bukan main besarnya. Andaikan nilai devisa itu bisa dihemat atau bahkan sebaliknya bisa didapatkan dari hasil ekspor jagung, maka tentu saja kehidupan petani akan semakin sejahtera dan perekonomian nasional akan semakin baik dan kuat. 


Cahaya terang ke arah itu semakin tampak manakala pada tahun 2018 ini Indonesia berhasil mulai melakukan ekspor jagung.


Menuju swasembada jagung pada tahun 2017 dan ekspor jagung pada tahun 2018 bukan tanpa tantangan. Statistik impor jagung pada periode tahun 2010-2014 dapat menggambarkan betapa tidak mudah untuk melepaskan diri dari ketergantungan impor jagung.  

 

Pada periode lima tahun tersebut nilai impor jagung sangat variatif dengan laju pertumbuhannya mencapai 15,72%/tahun. Total nilai devisa yang digunakan untuk impor jagung selama 5 tahun tersebut mencapai 3,57 Milyar US $. Nilai impor jagung tertinggi pada periode tersebut adalah pada tahun 2011 ( 1 Milyar US$) dan tahun 2013 (900 juta US$). 


Tiga negara terbesar asal impor jagung kita pada saat itu adalah Brazil (38,51%), India (34,58%), dan Argentina (22,24%).

 

Pada periode tahun 2010-2014 tersebut Indonesia juga sudah melakukan ekspor jagung dalam jumlah yang terbatas. 


Nilai ekspor jagung selama 5 tahun tersebut mencapai 63,5 juta US$ dengan rata-rata laju pertumbuhannya cukup kecil, 4,42%/tahun. 


Jumlah nilai ekspor jagung tersebut sangat timpang dibanding dengan nilai impornya, alias defisit berat. Tiga negara tujuan ekspor jagung kita adalah Filipina (66,51%), Jepang (16,23%), dan Pakistan (10,03%). Pada periode tersebut setidaknya ada 4 provinsi pemasok jagung untuk diekspor, yakni Gorontalo, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara.


Pada tahun 2018 ini Indonesia sudah ekspor jagung lebih dari 100.000 ton ke Filipina, berasal dari Gorontalo dan Sulawesi Selatan. Bahkan Provinsi NTB menargetkan ekspor jagung 300.000 ton ke Filipina. 


Berdasarkan pertemuan bilateral antara Filipina dan Indonesia diketahui bahwa potensi pasar jagung di Filipina mencapai 1 juta ton. 


Itu pertanda dan peluang yang baik bagi petani jagung di kita untuk terus meningkatkan produksi dan efisiensi usahataninya agar bisa bersaing di pasar internasional. 


Upaya yang dilakukan Pemerintah melalui Kementerian Pertanian sangat jelas mendukung ke arah tersebut, antara lain penyediaan benih jagung dan pupuk untuk lahan seluas 3,7 juta hektar yang akan diberikan secara gratis kepada petani. 


Pada suatu kesempatan Mentan menyatakan bahwa peningkatan produksi jagung tidak hanya berdampak pada perolehan devisa, tetapi juga akan sangat nyata meningkatkan kesejahteraan petani. 

 

Faktor Budidaya

Kesuksesan ekspor di tahun ini tidak bisa terlepas dari suksesnya faktor budidaya dalam menyediakan jagung. 

 

Salah satunya adalah ketersediaan varietas unggul baru (VUB), baik yang dikembangkan oleh Badan Litbang Petanian, Kementan maupun industri swasta saat ini sudah banyak tersedia. Produktivitas jagung VUB tersebut pada skala demontrasi plot (Demplot) atau Demontrasi areal pertanian (Demfarm) mencapai 11-18 ton/ha pipilan kering panen. Tingkat produktivitas jagung tersebut dapat dicapai dengan dukungan teknologi budidaya seperti pemupukan berimbang dan pengelolaan bahan organik, cara tanam Zigzag, dan pengelolaan panen dan pasca panen. 


Dewasa ini juga sedang dikembangkan juga pendekatan pertanian konservasi dalam pengembangan usahatani jagung, khususnya pada lahan kering beriklim kering, seperti di Provinsi NTB dan NTT. 


Pendekatan pertanian konservasi ditujukan selain untuk meningkatkan pendapatan petani, juga untuk menjaga atau melestarikan kualitas lingkungan hidup. Pendekatan pertanian konservasi mengacu pada prinsip-prinsip: (1) tanpa bakar dalam persiapan lahan, (2) olah tanah minimum, (3) pemanfaatan pupuk kandang dan pengelolaan biomassa tanaman sebagai mulsa atau penutup tanah, dan (4) pola tanam tumpangsari dan rotasi tanaman dengan aneka kacang-kacangan atau legume. 


Sudah banyak petani di kedua provinsi tersebut merasakan manfaat apliksi pertanian konservasi pada lahan keringnya. Antara lain peningkatan produksi jagung, penghematan biaya usahatani dan kesuburan tanah yang semakin baik. (kuntoro)

 

Opini : Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, Kuntoro Boga Andri.

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162