Loading...

Dam Parit Bertingkat, Solusi Penyediaan Air di Kemarau Ekstrim

09:28 WIB | Tuesday, 03-October-2017 | Non Komoditi, Sarana & Prasarana | Penulis : Gesha

Musim kemarau selalu identik dengan kekurangan air, padahal kejadian tersebut bisa diantisipasi dengan pembangunan dam parit bertingkat. Sarana ini juga bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas di lahan sawah tadah hujan.

 

Sebagian besar wilayah Indonesia memiliki curah hujan lebih dari 2.000 mm kubik per tahun. Jumlah yang potensial untuk usaha tani tanaman pangan maupun hortikultura, minimal untuk dua kali masa tanam per tahunnya. Namun, curah hujan sebesar itu masih belum dimanfaatkan secara optimal, sebaliknya menjadi penyebab bencana berupa banjir di daerah hilir dan erosi serta pencucian unsur hara di daerah alirannya.

 

Saat kemarau tiba, persediaan air sangat terbatas bahkan air menjadi barang langka sehingga sebagian lahan menjadi kering dan tidak bisa diusahakan. Kondisi tersebut tentu bisa menurunkan luas tanam, intensitas tanam dan produktivitas pertanaman. Belum lagi potensi sawah tadah hujan yang sangat banyak di Indonesia masih menunggu untuk bisa ditingkatkan kualitas dan produksinya. Pemanfaatan sumberdaya air menjadi kata kuncinya.

 

Untuk dapat melepaskan diri dari persoalan tersebut, Kementerian Pertanian bersama beberapa kementerian lainnya ditargetkan mampu membuat penampungan air di daerah berupa waduk, embung, bahkan dam parit. Dalam setiap kesempatan bahkan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman selalu menekankan pentingnya menampung air saat musim hujan dan memanennya saat musim kemarau.

 

Salah satu sarana yang bisa dibangun langsung oleh petani melalui Gapoktan di daerah adalah pembuatan dam parit. Kepala Subdit Pengembangan Jaringan Irigasi dan Perkumpulan Petani Pemakai Air, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian, Handi Arief menuturkan fungsi dam parit ini mengumpulkan atau membendung aliran air pada suatu parit. “Selain bisa mengairi lahan di sekitarnya, dam parit juga bisa menurunkan kecepatan aliran permukaan, erosi dan sedimentasi,” tuturnya.

 

Model dam parit sendiri mengadopsi sistem sawah bertingkat yang sudah sejak lama diketahui sangat ideal dalam menampung, menyimpan dan mendistribusikan air di alam. Dam parit dibangun dengan cara membendung aliran air di alur sungai sehingga air yang mengalir dicegat untuk mengisi dam.

 

“Dengan lamanya air tertahan di dalam wilayah DAS, maka sebagian air akan meresap ke dalam tanah untuk mengisi cadangan air tanah dan sebagian lainnya dapat dialirkan ke lahan yang membutuhkan air,” jelasnya.

 

Di parit-parit selanjutnya juga bisa dibuat dam atau bendung lagi hingga berbentuk dam parit bertingkat. Demikian seterusnya sampai lahan dapat diairi lebih luas. Adanya dam parit bertingkat, perendaman besaran banjir (debit puncak dan waktu menuju debit puncak) bisa dilakukan secara berlapis. “Kelebihan air pada dam parit pertama bisa ditampung pada dam parit berikutnya dan seterusnya,” ungkapnya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162