Loading...

Lama dengan Ciherang, Petani Kini Mulai Lirik Inpari

11:47 WIB | Monday, 21-May-2018 | Pangan, Komoditi | Penulis : Tiara Dianing Tyas

 

 

Varietas padi Ciherang telah cukup lama digunakan petani, sehingga kini tak tahan lagi terhadap gangguan hama dan penyakit tanaman (organisme pengganggu tumbuhan /OPT). Karena itu, pemerintah kini mendorong petani menggunakan varietas unggul baru yang lebih tahan terhadap serangan OPT.

 

Ketua Kelompok Tani Sri Rejeki, Mahsun, Lemah Abang, Bekasi mengakui, kini anggota kelompok tani didesanya telah banyak beralih dari benih Ciherang yang sudah mulai rentan terhadap Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) ke benih Inpari 33. Benih ini merupakan rekomendasi dari Kementerian Pertanian, karena selain tahan terhadap OPT juga memiliki produktiivtas tinggi.

 

”Pada masa tanam Oktober-Maret yang lalu, produksinya bagus, rata-rata 8 ton/ha dan tahan zonk atau wereng,” kata Mahsun di sela-sela kunjungan Penanggung Jawab Upaya Khusus Swasembada (UPSUS) Jawa Barat, Banun Harpini, di Bekasi, beberapa waktu lalu.

 

Sementara itu Ketua Poktan Tani Makmur, Satiri, Lwliang Bogor juga mengakui, selama ini banyak petani di desanya menangkar benih Mekonga dan Ciherang. Namun kini sudah mulai tidak tahan terhadap Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

 

Keluhan terhadap varietas Ciherang yang mulai tidak tahan OPT dijawab Banun Harpini, bahwa pemerintah telah memperkenalkan benih varietas unggul yang tahan hama dan berproduktivitas tinggi kepadi petani yakni Inpari. Varietas tersebut lebih tahan terhadap gangguan OPT. “Gunakan teknologi yang telah dipersiapkan Kementerian Pertanian,” katanya.

 

Pada kesempatan itu Banun meminta petani untuk memanfaatkan secara optimal ketersediaan air yang masih ada. “Jangan lupa cermati ketersediaan air, lakukan cara tanam, panen dan tanam secara serentak, saya yakin kita dapat panen tiga kali setahun. Mumpung air masih cukup tersedia, kita kejar masa tanam padi agar dapat tumbuh subur dan panen berlimpah,” tuturnya.

 

Gerakan LTT

 

Kementerian Pertanian mendorong petani melakukan panen, tanam dan panen secara berkesinambungan melalui Gerakan LTT (Luas Tambah Tanam). Gerakan ini dilakukan petani bersama dengan tim upsus. Hal ini guna memenuhi target ketersediaan beras yang telah ditetapkan dan mencapai  kesejahtaraan petani. 

 

Untuk membantu petani, Kementerian Pertanian telah menyiapkan teknologi, baik benih pupuk dan alsintan. “Petani harus memaksimalkan dan cermat dengan ketersediaan air, sehingga ancaman terhadap hama dan gagal panen dapat diantisipasi,” ujarnya. 

 

Banun bersama jajaran tim UPSUS yang terdiri dari dinas pertanian dan kodim 0406 Kabupaten Karawang menargetkan Gertam LTT  Mei ini seluas 13.411 ha. Dengan optimalisasi traktor dalam pengolahan lahan, Banun yakn dapat segera mengejar percepatan seluas 9.089 ha hingga akhir Mei 2018.

 

Kepala UPTD Kecamatan Lemah Abang, Dedi pada kesempatan yang sama menyampaikan apresiasi yang tinggi atas pendampingan tim Upsus, terutama bantuan pengendalian wereng yang sempat terjadi di akhir 2017. Kondisi tersebut dapat diatasi dengan baik ditambah dengan bantuan alsintan, benih dan pupuk. Alhasil padi dengan masa tanam Oktober-Maret berhasil dipanen dengan providuktivitas tinggi dan harga padi petani yang terjaga.

 

Dalam rangkaian safari Gertam LTT pada Masa Tanam April-September 2018 di wilayah UPSUS Jawa Barat yang menjadi tanggung jawabnya, Banun juga menyampaikan berdasarkan informasi dari BMKG musim kering untuk wilayah Jawa Barat masih cukup baik dibanding tahun lalu. “Air masih tersedia, namun kita harus cermat. Untuk itu gerakan tanam serentak ini akan terus saya kawal,” tegasnya.

 

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bogor, Siti Nuryanti melaporkan bahwa  luas baku sawah kabupaten Bogor seluas 46.009 ha. Dengan target luas tanam Mei 9.766 ha dan sudah terealisasi seluas 5.5415 ha.  Untuk itu sisa lahan 4.351 ha hingga 31 Mei terus dikejar dengan program Gertam LTT yang dikawal tim upsus.

 

Pengawalan kebijakan terhadap aturan yang mengatur lahan pembangunan pangan berkelanjutan (LP2B) juga diharapkan Siti, mengingat penurunan lahan baku sawah yang terus tergerus. “Kebijakan lahan abadi untuk pertanian perlu terus didorong Kementan, agar pangan terjamin ketersediaannya,” kata Siti. Tia

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162