Loading...

Demi Panggilan Luhur, Rela Kami Berlumpur

11:10 WIB | Thursday, 03-September-2015 | Opini, Agri Wacana | Penulis : Julianto

Yenni, THL-TBPP Teladan 2015

 

“Walaupun di dusun sepi, rela kami mengabdi, jadi dian petani yang hidupnya ironi. Demi panggilan luhur, rela kami berlumpur, di bawah sang mentari, wajah tetap berseri, kami cinta pertanian.” Demikian syair mars Fakultas Pertanian Universitas Andalas.

 

Syair itulah yang memberikan motivasi Yenni, THL-TB Penyuluh Pertanian teladan asal Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menjalankan tugas sehari-harinya dengan ikhlas dan penuh semangat. Dengan keikhlasannya tersebut istri David Raimon, akhirnya mendapat penghargaan sebagai THL-TB Penyuluh Pertanian Tingkat Nasional tahun 2015.

 

Yenni menjadi satu dari 33 THL-TB Penyuluh Pertanian yang mendapatkan kesempatan mengikuti rangkaian Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 70 di Istana Negara. Dilahirkan di Koto Gadang, Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 14 April 1982, Yenni menjalankan profesinya sebagai tenaga penyuluh pertanian.

 

Di awal karirnya tahun 2007, putri ke- 4 dari almarhum Arsan dan Saimanidar yang berprofesi sebagai petani, ditugaskan sebagai THL-TBPP di UPT BP4K2P Kecamatan Baso dengan wilayah binaan Nagari Salo. Namun sejak tahun 2015 ini juga membina Nagari Koto Baru, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Wilayah binaan ini merupakan salah satu sentra pangan, hortikultura, perkebunan dan pengolahan hasil pertanian.

 

Didukung 80% penduduknya berprofesi sebagai petani, Nagari Salo memiliki satu gabungan kelompok tani (Gapoktan), satu Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA), 10 kelompok tani (Poktan) dan satu kelompok wanita tani (KWT), dua kelompok perkumpulan petani pemakai air (P3A), satu posko Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dan satu posko penyuluh nagari.

 

Wilayah Nagari Salo cukup luas. Terdiri dari lahan sawah dan lahan kering. Semua ini merupakan potensi yang menjadi tanggungjawab pembinaan bagi Yenni. Potensi tersebut terinventarisasi dengan lengkap sebagai bahan penetapan materi penyuluhan.

 

Inovasi dan Penerapan Teknologi

 

Yenni mengatakan, penerapan teknologi dan inovasi baru pada petani harus didasari kebutuhan. Sebelum menyebarluaskan informasi hendaklah dicari terlebih dahulu apa kebutuhan petani dan mengetahui masalah yang dihadapinya. “Sehingga tujuan penyuluhan pertanian yaitu merubah sikap, pengetahuan dan keterampilan petani dapat dicapai,” ujarnya.

 

Menyadari hal itu, Yenni berhasil memfasilitasi petani dalam penerapan teknologi dan inovasi-inovasi terbaru. Di antaranya berupa demfarm dan demplot pengembangan System of Rice Intensification (SRI), PTS (Padi Tanam Sebatang) dan PTS Organik.

 

Dia juga mengajarkan petani membuat kompos dengan bahan baku jerami dan pemanfaatan sumberdaya lokal seperti tithonia, arang sekam, kotoran ternak, urine dan limbah rumah tangga. Teknologi lain yang diajarkan adalah pembuatan Mikro Organisme Lokal (MOL), membuat nutrisi tanaman cair (NPK cair organik), pestisida nabati, agens hayati, dan perangkap hama (tikus, walang sangit).

 

Selain itu juga pengembangan tembakau rendah nikotin, perluasan penanaman jeruk madu, tumpangsari jeruk madu dengan tembakau, pengendalian hama kera dan tupai memakai alat pengendali alami yang disebut meriam susu, peremajaan tanaman jeruk madu dengan sistem pemotongan batang dan pemotongan cabang utama.

 

Selain tugas pembinaan rutin sebagai penyuluh (membimbing penyusunan RDKK), ibu dari tiga putra dan satu putri yaitu: Fathurrahman (7 th), Fatimah (4,5 th), Harun Yahya (3,5 th) dan Muhammad Yasin (10 bulan) ini juga membantu penyusunan programa penyuluhan pertanian nagari (desa) dan kecamatan.

 

Dia juga membantu memotivasi dan mengembangkan kemandirian petani beserta keluarganya serta memfasilitasi kemudahan petani untuk mendapatkan sarana produksi, teknologi, permodalan dan informasi pasar. Yenni juga mendampingi berbagai kegiatan seperti pelaksanaan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) sebanyak enam Poktan yakni Sawah Baruah, Sahati, Suka Maju, Sawah Muaro, Remaja Petani Mandiri, dan KWT Tunas Muda.

 

Dengan pemanfaatan sumberdaya lokal dan pengembangan pertanian organik serta budidaya padi jajar legowo, petani yang menjadi binaan mampu mendongkrak produksi padi dari 6,4 ton/ha menjadi 8 ton/ha. Melalui demfarm, Yenni juga memberikan pembelajaran seperti penanaman, pemupukan, manajemen air, pengendalian OPT secara PHT, panen dan lain-lain. Yul

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Julianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162