Loading...

Di Antara Pilihan untuk Mensejahterakan Petani Padi

10:06 WIB | Monday, 25-September-2017 | Agri Wacana, Agri Wacana | Penulis : Kontributor

Oleh : Ir. Rachmadi Ramli, MS

 

Petani padi sebagai pelaku usahatani tentu mengharapkan memperoleh keuntungan yang lebih layak dari kegiatannya. Meningkatkan keuntungan usahatani padi bisa dengan dua pendekatan yaitu meningkatkan produksi dan/atau meningkatkan harga jual.

 

Meningkatkan harga jual tentu akan berdampak pada daya beli konsumen dan perekonomian secara umum, sehingga pemerintah menetapkan kebijakan harga terendah dan tertinggi. Jadi pilihan yang bisa memenuhi kepentingan bersama adalah dengan meningkatkan keuntungan disertai efisiensi produksi usahatani. Efisiensi produksi dengan meningkatkan diversifikasi dan keterpaduan cabang usahatani disertai pemanfaatan teknologi.

 

Keterpaduan usahatani bisa antar tanaman, namun dalam kontek swasembada beras dan daging sapi, maka keterpaduan antara tanaman dengan ternak sapi diharapkan dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar untuk kedua komoditas karena saling memberikan komplementer yang relatif lebih tinggi dibanding antar tanaman. Keterpaduan bukan hanya secara teknis, namun yang lebih penting adalah secara ekonomis untuk memperoleh pendapatan maksimum.

 

Indonesia pernah berhasil mencapai swasembada beras pada tahun 1984, namun tahun-tahun berikutnya terjadi fluktuasi produksi. Demikian pula produksi daging sapi, saat ini belum dapat mencapai swasembada. Pada tahun 2015, Indonesia mengalami defisit daging sapi sebanyak 237,89 ribu ton atau setara dengan 1,39 juta ekor sapi hidup.

 

Perhitungan itu didasarkan pada tingkat konsumsi daging sapi sebesar 2,6 kg/kapita/tahun dengan jumlah penduduk 255.461.700 jiwa sehingga kebutuhan daging sapi mencapai 653.982 ton atau setara 3.843.787 ekor sapi hidup, namun kemampuan lokal hanya 2.445.577 ekor sapi hidup. Porsi daging sapi yang diimpor mencapai 46% (Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag).

 

Potensi sumberdaya dan peluang untuk mencapai swasembada dari kedua komoditas tersebut bisa diwujudkan dengan strategi yang tepat.

 

Pemberdayaan petani melalui program dan kegiatan selama ini yang dilaksanakan oleh masing-masing Dinas/Instansi lingkup pertanian di daerah, cenderung dengan pendekatan pemerataan dibanding dengan pendekatan skala usaha yang optimal, sehingga kurang memberikan dampak nyata terhadap pendapatan dan keberlanjutan usahatani. Skala usahatani yang optimal tentu berbeda antar usahatani komoditas, agroekosistem atau antar wilayah.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162