Loading...

Di Tengah Musim Tanam, Petani Indramayu Dikuatirkan Serangan Virus Klowor

16:18 WIB | Tuesday, 16-January-2018 | Suara Tani, Kabar Penas KTNA XV 2017 | Penulis : Julianto

caya (depan), petani Indramayu sedang berjalan di pematang sawah

 

 

Kondisi pertanaman padi di Indramayu pada awal tahun 2018 sebagian besar masih hijau. Sepanjang penulusuran Tabloid Sinar Tani di Indramayu, kondisi lahan pertanian banyak yang baru mulai tanam dengan umur rata-rata sekitar 10-20 hari. Karena itu, salah seorang petani di Desa Tegak Girang, Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu, Caya, memperkirakan panen baru akan berlangsung awal April mendatang.

 

Namun di tengah kondisi pertanaman padi tahun ini, petani masih dikuatirkan ancaman virus klowor dan hama wereng cokelat dan tikus. "Musim tanam lalu, lahan petani disini banyak yang kena virus klowor, lahan saya yang terkenal 2 bahu," katanya saat Sinar Tani memantau kondis pertanaman padi di Indramayu, Selasa (16/1). Indramayu merupakan salah satu sentra produksi padi di Jawa Barat.

 

Akibat serangan virus tersebut Caya mengakui, kini biaya produksi usaha tani makin besar. Paslanya, petani harus mengeluarkan biaya lain untuk membeli obat-obatan pencegah munculnya virus tersebut.  Harganya sekitar Rp 180 ribu/bungkus.

 

Selain untuk biaya tersebut, petani juga harus mengeluarkan dana untuk sewa traktor Rp 800 ribu sekali pakai, untuk tandur Rp 900 ribu, pupuk sebanyak Rp 230 ribu, dan obat-obatan lain (pestida) untuk mencegah hama hawar daun sebesar Rp 260 ribu dan pengendali wereng batang cokelat Rp 110 ribu.

 

“Kalau seluruhnya, petani harus mengeluarkan biaya usaha tani Rp 6 juta untuk menggarap satu bahu lahan. Belum nanti kalau untuk panen, saya harus keluarin biaya Rp 800 ribu untuk bayar tenaga perontokan padi,” katanya.

 

Sementara itu, Kepala Seksi Harga dan Pasar Sub Divre Indramayu, Pensilius Siburian mengatakan, pada musim tanam musim tanam 2017, banyak lahan tanaman padi milik petani terserang virus klowor. Beberapa wilayah Indramayu yang terkena yakni, Kecamatan Jatibarang, Widasari, Gabus, Kroya, dan Kertasmaya.

 

Sebab menurut Pensilius, tanaman padi yang telah terserang virus klowor akan kerdil dan tidak berbuah, sehingga petani mengalami kerugian karena gagal panen. Petani umumya belum mengetahui cara mengatasi virus tersebut, karena termasuk jenis penyakit tanaman yang baru. “Akibat serangan virus tersebut, petani terpaksa tidak menanam padi sementara untuk mencegah serangan virus tersebut pada musim tanam selanjutanya,” katanya.

 

Soal penyarapan gabah, Pensilius memperkirakan kemungkinan baru akan banyak awal April mendatang seiring dengan petani yang panen. Untuk saat ini diakui, belum ada pengadaan gabah/beras, karena memang belum ada panen di Indramayu. Sub Divre Indramayu tahun 2018 menargetkan pengadaan sebanyak 89 ribu ton setara beras. Yul

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162