Loading...

E-Cert Turunkan Dwelling Time di Pelabuhan

16:40 WIB | Thursday, 22-September-2016 | Non Komoditi, Karantina | Penulis : Clara Agustin

Pemerintah Indonesia bersama Belanda mulai memperkenalkan Electronic Certificate (e-Cert) kepada masyarakat. Dengan e-Cert diharapkan akan menurunkan dwelling time di pelabuhan.

 

E-Cert merupakan sertifikat elektronik karantina pertanian hasil kerjasama antara Badan Karantina Pertanian dengan Kementerian Pertanian dan Ekonomi Belanda untuk meminimalkan administrasi dokumen yang berbelit menjadi lebih mudah dan yang paling utama menurunkan dwelling time di pelabuhan.

 

“Untuk saat ini saja dwelling time Karantina Pertanian di Pelabuhan Tanjung Priok 0,25 hari atau kurang lebih 3-4 jam per hari. Dengan adanya e-Cert, diharapkan dapat menurunkan kembali Dwelling Time di pelabuhan,” kata Kepala Badan Karantina Pertanian, Banun Harpini saat acara softlaunching e-Cert di Jakarta (22/9).

 

Dengan adanya E-Cert akan bisa memastikan produk pertanian impor-ekspor dijamin kesehatannya dan keaslian dokumen. Selain itu, membantu kecepatan proses pemeriksaan dokumen dan fisik, mencegah adanya impor ilegal, dan memberikan jaminan kepastian dalam mempercepat waktu layanan cepat arus bongkar muat barang di pelabuhan dan bandara.

 

“Layanan e-Cert merupakan bagian dari wujud kepedulian Barantan selaku anggota Organisasi Perlindungan Tumbuhan Internasional (IPPC) yang telah menetapkan bahwa sertifikat kesehatan tumbuhan secara elektronik (e-Phyto),” kata Banun.

 

Saat ini negara yang sudah menggunakan sistem aplikasi perkarantinaan berbasis elektronik yang dapat ditukar antar negara, yakni Belanda, Indonesia, Cina, AS dan Selandia Baru. Indonesia pun mencoba melakukan aplikasi ini dengan Belanda sebagai mitra strategis bagi ekspor impor komoditas pertanian Indonesia dan pintu gerbang ke Uni Eropa lewat Rotterdam.

 

Sepanjang tahun 2015, dari Indonesia sudah ada sebanyak 2.121 transaksi Sertifikat Karantina Tumbuhan dan 187 transaksi Sertifikat Karantina Hewan yang diterbitkan dengan tujuan Belanda. Sebaiknya dari Belanda tercatat ada 1.202 transaksi sertifikat karantina tumbuhan dan 662 transaksi karantina hewan. Komoditi yang diekspor adalah kopi, lada, karet, kakao, nanas, CPO, Palm Kernel Expeller, manggis, dan mangga.

 

“Setelah Belanda, kita akan membuka dengan Australia dan Selandia Baru. Kami pilih bekerjasama dengan negara-negara yang memang sudah sering melakukan ekspor-impor dengan Indonesia,” papar Banun.

 

Sementara Senior Responsible Officer eCertNL, Netherlands Food and Consumer Product Safety Authority, Ministry of Economic Affairs, Bernadus Slot mengatakan, kerjasama Belanda-Indonesia dalam produk pertanian sudah terjalin sejak dulu. Belanda memerlukan beberapa produk asal Indonesia karena Warga Negara Indonesia (WNI) yang menetap di Belanda cukup banyak.

 

Karena itu Slot mengakui, adanya e-Cert ini menguntungkan kedua belah pihak. Terutama mempersingkat Dwelling Time yang ada di pelabuhan atau bandara. “Permintaan produk pertanian asal Indonesia sangat tinggi di Belanda, begitupula Indonesia. Makanya e-Cert ini membantu kita dalam hal perdagangan komoditas pertanian,” katanya.

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162