Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - Bisnis Daging Olahan Terbuka Lebar

10:57 WIB | Tuesday, 13-June-2017 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani - Bisnis Daging Olahan Terbuka Lebar

 

Produk daging olahan kini menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat dalam mengkonsumsi bahan pangan asal ternak. Berbagai macam produk olahan sudah banyak beredar sebagai hidangan yang siap dikonsumsi.

 

Seperti diketahui pada Hari Besar Keagamaan, seperti Idul Fitri permintaan daging sapi hingga kerbau bakal meningkat. Konsumen akan memburu daging mulai dari pasar becek hingga swalayan. Sayangnya tak jarang masyarakat kerap mengabaikan aspek kebersihan. 

 

Peluang inilah yang kemudian dimanfaatkan pelaku usaha nakal meraup untung tanpa peduli kehalalan dan kebersihan dari daging. Padahal dengan penanganan daging sapi yang benar, hasil olahan pastinya bisa bergizi baik bagi masyarakat. 

Sebenarnya untuk mengkon­sum­si daging masyarakat tidak harus tergantung pada daging  segar, tapi   bisa  produk  daging olah­an. Olahan daging yang  dilaku­kan 33 perusahaan pengolahan yang berada di bawah naungan Aso­siasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (National Meat Processor Association/Nampa) bisa menjadi alternatif konsumsi daging masya­rakat. 

Kapasitas terpasang pabrik olahan di Tanah Air hanya 300 ribu ton/tahun dengan utilitas pengolahan daging 62-64%. Ketua Umum Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (Nampa), Ishana Mahisa mengata­kan, olahan daging sudah menjadi gaya hidup bagi masyarakat. Harganya pun sangat terjangkau. 

“Ada daging olahan (sosis) yang harganya hanya Rp 30 ribu per kg. Tapi, untuk sosis asal Malaysia malah ada yang harganya lebih murah lagi, yakni Rp 7.000 per 300 gram,” kata Ishana. 

Menurut dia, meat content (isi daging olahaannya) di Tanah Air rata-rata 25-40%, baru ditambah bahan lainnya seperti tepung, kedelai, air dan bahan lainnya. Tapi, di luar negeri, isi daging olahan lebih banyak sehingga lebih enak rasanya.

Ishana beralasan mengapa di dalam negeri isi daging olahannya hanya 25-40%, karena bahan baku daging di dalam negeri mahal. Bandingkan dengan di Malaysia, harga bahan baku daging sapi hanya Rp 36 ribu/kg. Sedangkan di dalam negeri harganya minimal Rp 60 ribu/kg.

Ishana berharap, jika pemerintah menghendaki olahan daging bisa menjadi alternatif masyarakat luas, maka pemerintah harusnya membuat kebijakan agar harga bahan baku (daging) lebih murah. Dengan demikian, meat content-nya lebih banyak dan harganya terjangkau. “Kalau rasanya enak dengan harga terjangkau pasti akan menjadi pilihan masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, dia juga berharap agar registrasi yang terkait dengan keamanan pangan ditata ulang. Artinya, yang diaudit pabriknya saja, sehingga jika pabrik olahan mengeluarkan produk baru tak perlu audit lagi.

Ishana memberi contoh Thailand yang pada tahun 1995 melakukan terobosan perdagangan olahan daging dengan smart. Pabrik olahan daging di Negeri Gajah Putih itu membuat olahan dengan mid content lebih banyak, sehingga kualitasnya bagus. “Akhirnya mereka bisa ekspor ke Eropa sampai saat ini,” ujarnya. 

 

Kenali Daging Sehat

Mengkonsumsi daging olahan memang menjadi satu alternatif saja. Namun jika masyarakat lebih menyukai mengolah produk daging segar, Peneliti Keaman­an Pangan Produk Peternak­an Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Balitbang Pertanian, Prof. Abubakar mengingatkan agar masyarakat mengetahui cara mengenali daging sehat.

Seperti diketahui daging sapi merupakan produk pangan asal hewan yang bersifat mudah rusak (perishable) dan merupakan media berkembangnya mikroba. Hal ini karena kandungan gizi yang lengkap dan digemari mikroorganisme, baik pathogen (menyebabkan sakit) maupun pembusuk. “Paling penting sebenar­nya penanganan daging sapi mulai dari rumah pemo­tongan hewan (RPH) sampai ke konsumen,” ungkapnya. 

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162