Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani -- Bisnis Kopi Makin Mantap

15:50 WIB | Wednesday, 25-October-2017 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani -- Bisnis Kopi Makin Mantap

 

Kopi kini menjadi komoditas yang cukup menggiurkan. Tumbuhnya kedai kopi bak jamur di musim hujan menunjukkan peluang usahanya cukup lebar seiring makin tingginya minat masyarakat mengonsumsi si hitam tersebut. 

 

Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) memperkirakan, konsumsi kopi dalam negeri sekitar 1,6-1,7 kg/kapita. Proyeksi tersebut meningkat pesat dibandingkan kondisi pada 10-12 tahun lalu yang hanya 0,8 kg/kapita.

 

Ketua AEKI Jawa Tengah, Moelyono Soesilo mengatakan, konsumsi kopi di pasar dalam negeri tumbuh 5-6% per tahun, dengan total konsumsi sekitar 4,5- 5 juta kantong/tahun. Jenis kopi yang paling banyak dikonsumsi adalah kopi tubruk dan 3 in 1 (white coffee). 

Pertumbuhan konsumsi kopi di dalam negeri saat ini berada di atas pertumbuhan produksi yang hanya berkisar antara 1-2% per tahun. Permintaan kopi untuk kebutuhan pasar horeca (hotel dan restoran) juga tumbuh sangat pesat. 

“Permintaan domestik yang tinggi ini juga terlihat dari menjamurnya kedai-kedai kopi yang digandrungi generasi milenial masa kini. Kebiasaan ngopi, kini menjadi gaya hidup bahkan gengsi yang dilihat juga sebagai peluang menggiurkan,” tutur Moelyono.

 

Jadi Budaya

Budaya ngopi kini mulai menjamah beragam lapisan di Indonesia. Badan Ekonomi Kreatif (BEKraf), bahkan mendorong menjadikan kopi sebagai gaya hidup (lifestyle) modern. “BEKraf juga berupaya meningkatkan usaha kopi lokal yang didukung dengan kreatifitas dalam pengolahannya melalui pendampingan dan bimbingan manajemen,” kata Kepala BEKraf, Triawan Munaf.

Berbagai sub sektor kreatif lainnya seperti kriya, desain, dan aplikasi juga didorong untuk mendukung usaha kopi. Mulai menciptakan alat-alat seduh kopi manual, desain kemasan kopi yang menarik, dan penggunaan aplikasi serta game untuk menjual kopi Indonesia.

Permintaan terhadap kopi bukan hanya dari pasar dalam negeri, tapi juga di berbagai benua di dunia. Contohnya, pertumbuhan ritel kopi di Eropa mengalami peningkatan dan mendongkrak kebutuhan kopi. Pada tahun 2016, nilai ekspor kopi Indonesia ke benua biru tersebut tercatat 239,57 juta Euro. 

Pengusaha kopi arabika gayo asal Aceh Tengah, Iwannitosa Putra menuturkan, ada beberapa negara Eropa yang permintaan kopinya cukup besar. Diantaranya, Austria, Swiss, Inggris, Jerman, Italia, Belanda, Spanyol dan Swedia. Tak hanya itu, kopi Gayo juga dinikmati pasar Amerika Serikat, khususnya kawasan Midwest. Nilai ekspor kopi Gayo ke negara bagian di Midwest mencapai 25,48 juta dolar AS atau tumbuh 37,9% dalam kurun waktu 2014-2016. 

 

Paling Banyak Dicari

Dibandingkan kopi dari negara lain, popularitas kopi Indonesia termasuk diminati dan paling dicari. Alasannya, kopi Indonesia punya karakterisasi dan cita rasa yang khas. “Untuk rasa, kopi Nusantara masih sulit ditandingi,” kata Ketua Kompartemen Penguatan Petani dan Industri Hulu, Asosiasi Kopi Specialty Indonesia, Win Hasnawi.

Beberapa nama kopi Nusantara yang sudah dikenal di kancah Internasional secara komersial umumnya berasal dari jenis kopi Arabika. Sebut saja kopi Gayo (Aceh), kopi Mandailing (Sumatera Utara), kopi Jawa (Jawa Timur), kopi Kintamani (Bali), kopi Toraja (Sulawesi Selatan), kopi Flores (Nusa Tenggara Timur) dan kopi Wamena (Papua).

Masing-masing kopi tersebut punya aroma dan cita rasa yang berbeda. Kopi Bali misalnya terasa lebih fruity (aroma jeruk). Sedangkan Kopi Jawa lebih dominan dengan rasa cokelat. Kopi dari dataran Sumatera, cenderung lebih spicy dan kaya rasa dengan rempah.

“Dari segi rasa, kopi arabika punya rasa yang bervariasi. Rasa dari kopi tersebut dapat lembut, manis, tajam, dan juga kuat. Konsumen dapat mengetahui bahwa sebelum disangrai, aroma dari kopi ini amat mirip dengan blueberry. Tapi setelah disangrai, kopi tersebut akan memiliki aroma buah-buahan manis,” tutur Hasnawi.

Sedangkan, grade kopi sendiri terbagi menjadi kopi specialty, kopi premium dan kopi komersil. Perbedaan ini berdasarkan cupping score yang dilakukan pakar pencicip cita rasa yang bersertifikat. Kopi specialty cupping score di atas 80, karena memiliki kualitas aroma dan rasa yang terbaik. Sedangkan kopi premium memiliki cupping score sekitar 70-80 dan kopi komersil di bawah 70.

Berdasarkan standar internasional, kopi terbagi menjadi specialty, kopi grade 1, dan kopi komersil. Specialty itu menuurt Hasnawi, kaya akan rasa, tanpa unsur negatif dan tanpa cacat. Sedangkan kopi grade 1 memiliki nilai lima poin untuk total defect atau cacat. “Kalau kopi komersil, banyak tingkat cacatnya karena kandungan kopinya lebih sedikit dari pada campurannya,” katanya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162