Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - Genderang Perang untuk Mafia Pangan

05:47 WIB | Wednesday, 11-July-2018 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani - Genderang Perang  untuk Mafia Pangan

 

Mafia pangan menjadi sosok menakutkan bagi dunia pertanian Indonesia. Lonjakan harga pangan yang tak kunjung padam disinyalir tak lepas dari ‘permainan’ mafia pangan. Karena itu pemerintah kini menabuh genderang perang dengan pelaku-pelaku yang kerap mengambil keuntungan di atas penderitaan masyarakat.

 

Berkali-kali dan berbagai kesempatan, Menteri Per­tanian, Andi Amran Sulaiman melontarkan perang terhadap mafia pangan. Kegusaran Amran tersebut tak lepas karena melihat kondisi perdagangan pangan di Indonesia yang ‘tak adil’. 

 

Di satu sisi, petani sebagai pro­dusen pangan menerima harga yang sangat rendah, dengan kata lain tak sesuai keringat yang mengucur. Tapi di sisi lain konsumen harus merogoh kocek lebih banyak untuk membeli produk yang dihasilkan petani.

Siapa yang mengambil keun­tung­an dari tingginya gap harga antara di petani dan kon­sumen? Jawabnya tak lain adalah para pedagang. Mata rantai pemasaran atau distribusi pangan dari petani ke konsumen yang sangat panjang, hingga 8-9 kali tahapan, membuat terjadi lonjakan harga.

Kondisi tersebut diperparah dengan adanya pelaku usaha ‘nakal’ yang mengambil keuntungan saat produksi pangan sedang turun. Memang harus diakui, kontinuitas supply pangan di dalam negeri masih naik-turun. Saat pasokan minim, harga bagaikan roket naik tinggi. Tapi anehnya, petani kadang tidak menikmati kenaikan harga tersebut. 

Sebaliknya saat pasokan melimpah, harga di tingkat petani anjlok bak terjun bebas. Lagi-lagi anehnya, di produsen harga tetap anteng tinggi. Jika turun tak sebanding dengan turunnya harga di tingkat petani.

Situasi perdagangan seperti itulah yang ingin pemerintah bereskan. Selain memangkas mata rantai pangan yang terlalu panjang, pemerintah juga berupaya membersihkan perdagangan pa­ngan dari pelaku usaha yang disinyalir merupakan bagian dari kartel yang dimainkan mafia pangan.

 

Langkah Konkrit

Tata niaga pangan memang menjadi persoalan tersendiri di republik ini. Gonjang-ganjing harga produk pangan yang kerap terjadi, terutama menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional bukan hanya meresahkan produsen dan konsumen, tapi bagi pemerintah pun menjadi masalah serius. Apalagi kenaikan harga kerap membuat stabilitas ekonomi men­jadi terganggu, karena me­nyebabkan inflasi.

Karena itu untuk menjaga stabilitas pangan, pemerintah terus bergerak, baik menerbitkan kebijakan seperti Harga Eceran Tertinggi (HET) maupun Harga Acuan untuk petani, maupun aksi langsung di lapangan. Kementerian Pertanian juga sejak dua tahun terakhir mengembangkan Toko Tani Indonesia (TTI) untuk menjaga stabilisasi harga pangan di tingkat konsumen. 

Satu harapan pemerintah dengan adanya TTI dapat memo­tong mata rantai pemasaran yang selama ini terlalu panjang. Jika sebelumnya mencapai delapan hingga sembilan tahapan, maka dengan TTI bisa terpangkas tinggal tiga tahap.

Sementara guna mengawasi ‘tingkah laku’ pelaku usaha dalam berbisnis, pemerintah pun membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pangan. Terbukti adanya Satgas Pangan telah membuat pelaku usaha mulai jera. 

Bahkan saat peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni dan Hari Krida Pertanian 2018 21 Juni, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menetapkan sebagai momentum pemerintah untuk serius memberantas praktek kartel yang menjadi momok dalam sektor pangan Indonesia. 

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162