Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - Lahan Pasang Surut Membangunkan Raksasa yang Tertidur

14:23 WIB | Wednesday, 13-December-2017 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani  - Lahan Pasang Surut Membangunkan Raksasa yang Tertidur

 

Lahan rawa pasang surut memang ibarat raksasa sumberdaya alam yang tengah tertidur. Bayangkan saja dengan potensi yang sangat besar hingga 30-an juta hektar (ha), lahan itu masih banyak yang menganggur.

 

Padahal jika digarap dengan serius plus terapan teknologi budidaya yang cocok, maka akan menjadi pemasok produksi pangan sangat besar. Bahkan ke depan pasokan pangan, khususnya beras tak lagi tergantung Pulau Jawa yang kini lahannya kian menciut akibat tingginya konversi lahan.

 

Hasil pemetaan Badan Peneliti­an dan Pengembangan (Litbang) Pertanian, Kementerian Pertanian, luas lahan rawa di seluruh Indonesia sekitar 33,43 juta ha. Dari jumlah itu, sebanyak 9,53 juta ha ternyata sesuai untuk kegiatan budidaya pertanian. 

Namun hingga kini luas lahan rawa yang dimanfaatkan untuk budidaya pertanian baru mencapai sekitar 2,270 juta ha. Artinya, baru 23,8% lahan rawa yang dimanfaatkan dari luas total lahan rawa yang sesuai untuk kegiatan pertanian. Sisanya, yang 76,2% atau seluas sekitar 7,26 juta ha masih menganggur alias belum dimanfaatkan. Padahal lahan rawa tersebut secara alami dapat dikembangkan untuk berbagai kegiatan budidaya pertanian.

Kalkulasinya, jika saja kita mampu membuka sawah baru di lahan rawa seluas 200.000- 500.000 ha setiap tahun, maka akan menjadi terobosan baru bagi penambahan produksi pangan di Indonesia. Dengan demikian, bukan hanya penduduk Indonesia yang ter­cukupi pangannya, sebagian dari pen­duduk dunia kelak dapat mengkonsumsi pangan dari dalam negeri.

Data Balitbang Pertanian, lahan rawa yang akan dikonversi men­jadi kawasan  pertanian di­prioritaskan pada lahan rawa yang ditumbuhi semak belukar yang memang secara ekologi cocok untuk kegiatan budidaya pertanian. Sesuai kajian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian, Badan Litbang Pertanian, sekitar 7,9 juta ha memiliki potensi untuk dibuka (ekstensifikasi lahan).

Prioritas lainnya adalah merevitalisasi rawa bokor yang mencapai 2 juta ha. Rawa bokor adalah lahan rawa yang pernah dibuka, tapi belum dibudidayakan. Lahan terbengkalai ini dapat diaktifkan dengan memperbaiki sistem tata air, baik makro maupun mikro. Alokasi biayanya tidak terlalu besar dibandingkan membuka lahan rawa yang baru.

Jadi, dengan memperhatikan fakta tersebut, Indonesia memiliki potensi lahan rawa untuk kegiatan pertanian seluas sekitar 9,9 juta ha. Angka tersebut sangat fantastik dibandingkan dengan total lahan sawah yang digarap petani di seluruh Indonesia seluas sekitar 12,65 juta ha.

 

Kerek Produksi 

Melihat potensi lahan rawa di seluruh Indonesia, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman optimis produksi pangan mampu ditingkatkan lagi. Saat ini di Kalimantan Selatan, pemerintah tengah mencoba mengembangkan budidaya padi seluas 10 ribu ha dari rencana 1 juta ha. Potensi lahan rawa pasang surut di seluruh Kalimantan mencapai 10 juta ha.

Kalkulasi Amran, jika 1 juta ha saja lahan rawa pasang surut untuk budidaya padi, dengan produktivitas sekitar 5 ton/ha, akan ada penambahan produksi sebanyak 5 juta ton gabah dalam satu kali panen. Jika bisa ditanami padi hingga 3 kali, maka akan ada tambahan sekitar 15 juta ton gabah kering giling (GKG). 

“Dengan harga gabah Rp 4 ribu/kg, pendapatan petani akan mencapai Rp 60 miliar. Kalau yang dihasilkan padi organik, pendapatan petani akan lebih besar lagi,” kata Amran. 

Amran mengakui, selama ini lahan rawa pasang surut memang belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk usaha budidaya padi. “Kalau musim kemarau, lahan rawa jadi sumber api karena kebakaran. Saat musim hujan untuk bermain perahu,” ujarnya di sela-sela kunjungan ke Pasar Induk Beras Cipinang, beberapa waktu lalu.

Lahan rawa lebak memang ibarat raksasa yang sedang tertidur. Potensi yang sangat besar tersebut selama ini belum tergarap maksimal. Terlihat dari kontribusi produksi padi di lahan rawa lebak yang hanya 1-1,5% dari total produksi nasional. Ini tidak lepas dari produktivitas tanaman padi yang masih di bawah 4 ton/ha.

Kondisi ini karena masih minim­nya pengetahuan petani ter­hadap sistem budidaya di lahan rawa. Memang secara alami lahan rawa memiliki tingkat kesulitan budidaya lebih tinggi dibandingkan lahan pertanian non rawa.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162