Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - Lompatan Besar dalam Tiga Tahun

13:10 WIB | Tuesday, 14-November-2017 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani - Lompatan Besar dalam Tiga Tahun

 

Tiga tahun sudah Kementerian Pertanian di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman. Dalam jangka waktu yang terbilang tak begitu lama, ada empat komoditas yang berhasil mencapai swasembada. Keempat komoditas tersebut yakni, padi (beras), jagung, cabai dan bawang merah.

 

Seperti kita ketahui kebijakan pangan di era Jokowi-JK telah tertuang dalam Nawacita dan menjadi landasan program kerja pemerintah yaitu mencapai swasembada pangan dalam rangka ketahanan pangan nasional. Terkait kebijakan pangan tersebut, ada tiga hal yang menjadi perhatian utama yaitu pangan yang cukup untuk masyarakat, menurunkan angka kemiskinan dan mensejahterakan petani. 

Kebijakan tersebut kemudian diimplementasikan Kementerian Pertanian melalui berbagai pro­gram terobosan kebijakan pem­bangunan pertanian. Di antaranya, melalui optimalisasi lahan dan penambahan luas tanam, perbaikan infrastruktur dan penyediaan bantuan sarana usaha tani, serta penataan sumber daya manusia (SDM).

Sejak Oktober 2014, Kemen­terian Pertanian di bawah kepe­mimpinan Andi Amran Sulaiman menetapkan program prioritas de­ngan target swasembada. Yak­ni, padi, jagung, kedelai, bawang, cabai, daging dan gula. Implementasi dari program swasembada tersebut, Kementerian Pertanian mencanangkan Upa­ya Khusus (Upsus) melalui pening­katan produksi dengan tiga komoditi pangan utama yang menjadi target awal yaitu padi, jagung dan kedelai (Pajale). Lalu, diikuti bawang merah dan cabai.

Untuk swasembada daging, Kementerian Pertanian mengge­rakkan melalui program sapi indukan wajib bunting (SIWAB). Sementara untuk gula Kementerian Pertanian mendorong investasi swasta untuk membangun pabrik baru, disamping melakukan revitalisasi pabrik gula yang sudah ada.

 

Target dan Program Terobosan 

Berdasarkan peta jalan menu­ju lumbung pangan dunia, Ke­menterian Pertanian telah mene­tapkan target pencapaian swasembada pangan. Pertama, tahun 2016 ditargetkan swasem­bada padi, bawang merah dan cabai. Kedua, tahun 2017 ditar­getkan swasembada jagung. Ke­tiga, tahun 2019 ditargetkan swa­sembada gula konsumsi dan bawang putih. 

Keempat, ditargetkan swa­sem­bada kedelai tahun 2020. Kelima, tahun 2024 ditargetkan swasembada gula industri. Ke­enam, tahun 2026 ditargetkan swasembada daging sapi. Ketujuh, di tahun 2045 Kementerian Per­tanian menargetkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia.

Berbagai macam program tero­bosan didasarkan pada kondisi lapangan. Program disusun melalui pendekatan kesisteman (system approach). Pertama, identifikasi parameter yang berpengaruh, baik internal yang dapat digerakkan Kementan maupun eksternal yang perlu dukungan sektor lain. Kedua, daya ungkit dan sensitifitas masing-masing parameter terhadap pencapaian tujuan berdasarkan analisis sensitifitas. Ketiga, kajian dampak dan multifier efek dari program terobosan.

Dari pendekatan kesisteman tersebut, secara berturut-turut disusun dalam program aksi yakni rehabilitasi infrastruktur, sarana (alsintan, pupuk, benih pestisida), pendampingan dan penguatan SDM, penanganan pasca panen, dan pengendalian harga. Semua itu merupakan parameter pengungkit yang mendapat prioritas dalam penyusunan program terobosan yang disesuaikan dengan kebu­tuhan lapang.

Selama pemerintahan Jokowi-JK berjalan, program terobosan tersebut telah diimplementasikan melalui program dan tindakan kongkret. Pertama, Kementerian Pertanian telah merevisi regulasi Perpres Nomor 172 tahun 2014 tentang pengadaan benih dan pupuk dari Lelang menjadi Penunjukan Langsung. Kedua, refocusing anggaran tahun 2015 hingga 2017 sebanyak Rp 12,3 triliun. Ketiga, bantuan benih 7 juta ha untuk petani harus diluar lokasi eksisting.

Keempat, perluasan dan opti­masi lahan sawah 1,08 juta hektar atau 108%. Kelima, perbaikan jaringan irigasi tersier 3,4 juta ha atau 113% dan pembangunan 2.278 unit embung/dam parit/ long storage. 

Keenam, modernisasi pertani­an melalui mekanisasi dengan bantuan alsintan 284.436 unit naik 2.175% dari 2014 sebesar 12.501 unit. Bantuan benih 12,1 juta hektar dan bantuan pupuk bersubsidi 27,64 juta ton. Tercatat juga program asuransi usahatani padi untuk luasan 1,2 juta ha dan sapi 120.000 ekor. Program asuransi tersebut adalah pertama dalam sejarah. Kemudian ketujuh, pengendalian harga, distribusi, impor dan mendorong ekspor.

 

Dua Tahun Terlihat Dampaknya

Penerapan dari program dan kebijakan tersebut di atas, dampaknya dalam dua tahun terakhir terlihat. Produksi 13 komoditas strategis meningkat. Terlihat dari data BPS, Produksi padi 2017 sebesar 81,5 juta ton naik 15,1% dari 2014, jagung 26,0 juta ton naik 36,9%, aneka cabai 1,90 juta ton naik 1,5% dan bawang merah 1,42 juta ton naik 15,3% dari 2014. Nilai tambah peningkatan produksi dari 2014-2016 untuk 43 komoditas sebesar Rp 288 triliun.

Peningkatan luas tambah tanam (LTT) menjadi 16,39 juta ha meningkat 2,34 juta hektar atau 16,65% serta Indeks Pertanaman (IP) 1,73 atau meningkat 2,95%. Pengembangan lahan rawa 367 ribu ha (100%). Berikutnya terbangunnya desa mandiri benih 1.313 desa atau 131% dari target 1.000 desa mandiri benih. Desa pertanian organik mencapai 714 desa atau 71,4%.

Pencapaian produksi pangan strategis juga diikuti dengan peningkatan produksi protein hewani. Pada tahun 2016 produksi daging sapi sebesar 0,52 Juta ton, naik 5,31% persen dibandingkan tahun 2014 yaitu 0,49 Juta ton. Begitu juga produksi telur, pada tahun 2016 produksi mencapai 1,6 Juta ton terjadi peningkatan 13,6% dibandingkan tahun 2014 sebesar 1,4 Juta ton. Sementara untuk daging ayam juga mengalami peningkatan produksi tahun 2016 sebesar 3,1 Juta ton juga dibandingkan dengan tahun 2014 yaitu 1,9 juta ton.

Pencapaian peningkatan pro­duksi juga diikuti dengan meningkatnya kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) yaitu NTP tahun 2016 mencapai 101,65 meningkat 0,06% dibandingkan NTP 2015 yang sebesar 101,59. NTUP rata-rata nasional tahun 2016 juga berada di posisi tertinggi dalam 3 tahun terakhir. Tahun 2016 NTUP mencapai 109,86 atau naik 2,3% dibandingkan tahun 2015. 

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162