Loading...

e- Paper Tabloid Sinar Tani - Menangkal Dua Serangkai,Kutu Kebul dan Virus Kuning

11:27 WIB | Thursday, 26-April-2018 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e- Paper Tabloid Sinar Tani - Menangkal Dua Serangkai,Kutu Kebul dan Virus Kuning

 

Kutu Kebul dan Virus Kuning menjadi dua serangkai hama dan penyakit yang kerap menghantui petani hortikultura, terutama tanaman cabai dan tomat. Bahkan hingga kini belum ada insektisida/pestisida yang ampuh menghalau organisme pengganggu tumbuhan (OPT) tersebut.

 

Sampai sekarang, virus kuning masih menjadi ancaman petani. Ta­naman yang sudah terkena serangan virus kuning sulit diberantas,” demikian ungkapan keresahan Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuh­an (POPT) Jombang, Jawa Timur, Sutami kepada Sinar Tani, beberapa waktu lalu.

 

Keresahan Sutami bisa jadi mewakili petani-petani di seluruh sentra hortikultura. Bahkan di daerah Jombang, Jawa Timur, virus kuning masih menjadi “momok” petani cabai. Karena itu Sutami menyarankan kepada petani agar tanaman lolos dari serangan virus kuning adalah menggunakan benih cabai atau tomat bersertifikat. 

Direktur Perlindungan Ta­naman Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf juga mengakui, penyakit yang disebabkan virus memang relatif sulit dikendalikan. Bahkan, hingga kini belum ada pestisida yang dapat mematikan virus kuning, sehingga tindakan yang paling tepat adalah upaya pen­cegahan. 

Menurut Kepala Balai Pene­litian Tanaman Sayuran, Catur Hermanto, hingga kini daerah endemis OPT tersebut adalah di dataran rendah sampai medium. Meski diakui, sekarang di dataran tinggi juga mulai ada serangan kutu kebul dan virus kuning. Ciri-ciri daerah endemis yakni banyak gulma babandotan yang menguning daunnya, tetapi tidak layu (banyak terserang virus kuning). “Serangan tinggi sering terjadi pada musim peralihan kemarau ke hujan atau sebaliknya,” ujarnya. 

 

Cegah Dini

Bagaimana mencegah se­rangan OPT kutu kebul dan virus kuning tersebut? Cara yang tepat untuk mengendalikan menurut Wijayanti, adalah dengan membasmi vektornya (kutu kebul) dengan menggunakan pestisida berbahan aktif abamectin. “Kalau belum terlalu parah, kita dapat membuang bagian tanaman cabai/tomat yang terserang kutu kebul. Tapi kalau sudah parah, sebaiknya dimusnahkan tanamannya,” sarannya.

Catur juga menegaskan, ji­ka serangannya muncul pada awal tanam sampai dua bulan setelah tanam, sebaiknya dicabut karena tanaman tidak akan ber­buah, bahkan dapat menjadi sum­ber inokulum. Kemudian per­tanaman disemprot insektisida Thia­me­takson (aktara) agar se­rangan penyakit kuning tidak meluas. 

“Jika serangan baru terjadi saat tanaman sudah berbuah, penyakit tidak berpengaruh terhadap produksi, sehingga tanaman boleh tetap dipelihara. Namun demikian, harus dilakukan pengendalian vektornya agar tidak menular,” katanya.

Catur menjelaskan, setidaknya ada lima langkah tindakan prefentif atau pencegahan supaya tanaman cabai dan tomat terhindar dari penyakit ini. Pertama, penggunaan sungkup kain sifon pada perse­maian. Kedua, penyemprotan in­ducer daun bunga pagoda pada saat persemaian berumur tiga minggu setelah semai atau seminggu sebelum pindah tanam.

Ketiga, penanaman border jagung sebanyak minimal em­pat baris, ditanam satu bulan sebelum tanam cabai. Keempat, dicegah jangan tumpangsari atau berdekatan dengan pertanaman terung, tembakau dan kedelai. Terakhir, sebelum cabai ditanam, sebaiknya lahan disemprot dulu dengan Thiametakson. “Boleh dicoba juga pertanaman cabai disemprot dengan ekstrak sereh wangi atau daun bunga lavender seminggu sebanyak dua kali,” katanya.

Sementara itu Sutami menya­rankan agar petani menanam cabai atau tomat dengan plastik mulsa. Sebab, plastik mulsa akan memantulkan cahaya matahari ke daun, sehingga vektor virus kuning (kutu kebul) yang suka menempel/bersembunyi di bawah daun akan pergi terkena cahaya dari pantulan plastik mulsa.

Sebelum menyemai benih cabai, Sutami mengingatkan, pe­tani agar terlebih dahulu meren­dam benih cabai atau tomat dengan fungisida. Hal ini untuk mengurangi ancaman jamur pada benih cabai atau tomat yang akan disemai. Setelah dua minggu, benih baru dimasukkan dalam polibag. “Petani juga harus menggunakan benih unggul. Jadi benihnya harus bersertifikat. Jangan gunakan benih sembarangan,” tegasnya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162