Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - Mengembalikan Kejayaan White Diamond

11:05 WIB | Tuesday, 20-June-2017 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani - Mengembalikan Kejayaan White Diamond

 

Indonesia pernah berjaya dalam produksi bawang putih. Bahkan komoditas tersebut diibaratkan sebagai white diamond (berlian putih). Sayang kini pamor bawang putih makin menurun. Lebih mirisnya lagi, hampir 95% kebutuhan bawang putih dipasok dari luar negeri alias impor.

 

Kini pemerintah ingin mengembalikan kejayaan tersebut. Dengan luas lahan yang dulu pernah dikembangkan untuk budidaya bawang putih, potensi mendongkrak kembali produksi cukup besar. Bahkan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, sempat melontarkan optimisme bahwa Indonesia bi­sa swasembada bawang putih dalam jangka waktu tiga tahun mendatang.

Kejayaan bawang putih terjadi sebelum tahun 1998. Salah satu yang merasakan adalah petani di Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal. Hasil dari bawang putih membuat petani bisa merasakan tanah suci mekkah (Ibadah Haji). 

Namun setelah tahun 1998, bawang putih tidak lagi menjadi usaha tani yang menggiurkan. Bawang putih impor terus membanjiri pasar dalam negeri dengan harga lebih murah. Petani bawang putih dalam negeripun tak lagi bergairah. Banyak usaha tani bawang putih gulung tikar dan petani alih profesi ke usaha tani lainnya. 

Jika menengok ke belakang, rontoknya bawang putih di dalam negeri terjadi pasca dibukanya liberalisasi perdagangan (IMF tahun 1998). Hal ini terjadi akibat masuknya bawang putih impor yang harganya jauh lebih murah ketimbang produk lokal. Jadi tak heran sejak tahun 1998, luas panen bawang putih terus merosot. 

Ditambah lagi tahun 2000 dibentuknya Asean Free Trade Area (AFTA) yang membuat bawang putih lokal kian terpuruk. Bahkan mulai 2005, dengan adanya ACTA (Asean-China Free Trade Area), pemerintah menghapuskan tarif impor bawang putih dari Cina. Imbasnya, bawang putih Cina membanjiri pasar dalam negeri, karena tanpa ada hambatan bea masuk dan bea teknis.

Data Kementerian Pertanian, dari tahun 1996-2014 terjadi penu­runan luas panen 9,75% per tahun dengan produksinya 10,75% per tahun. Jika tahun 1996 produksi bawang putih sebanyak 145.836 ton, maka tahun 2014 tinggal 16.892 ton. “Di tahun 2014, hampir 95% kebutuhan bawang putih dipenuhi impor,” kata Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertani­an, Spudnik Sujono.

Selama ini pemenuhan bawang putih di Indonesia berasal dari impor (Cina dan India). Akibatnya, ketika pasokkan impor berkurang, harga melonjak tajam. Seperti beberapa waktu lalu, harga bawang putih di pasaran menembus angka Rp 70 ribu/kg.

Jika menelisik lebih jauh penyebab produksi bawang putih makin menurun, setidaknya ada tiga faktor. Pertama, harga jual yang sangat rendah, sebaliknya harga sarana produksi semakin tinggi. Kedua, merebaknya bawang putih impor yang harganya jauh lebih murah. Ketiga, resistensi hama dan penyakit akibat penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebihan. 

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162