Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - Stabilisasi Harga Permanen

06:19 WIB | Friday, 01-June-2018 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani - Stabilisasi Harga Permanen

 

Gejolak harga pangan kerap membuat repot pemerintah. Pasalnya, sering menjadi pemicu naiknya inflasi. Enggan dibuat pusing urusan kenaikan harga lagi, pemerintah pun mencari berbagai alternatif agar stabilitas harga terus terjaga sepanjang tahun.

 

Lonjakan harga pangan memang sering terjadi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Beberapa komoditas yang kerap bergejolak adalah beras, bawang merah, cabai, gula dan daging. Untuk meredam kenaikan harga, pemerintah selalu saja mengintervensi dengan menggelar operasi pasar (OP) murah.

Namun, cara itu kadang tak mempan melawan arus kenaikan harga. Bahkan Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso mengibaratkan, OP seperti pemadam kebakaran. Bahkan Bulog kini tak lagi berpikir untuk menggelar OP untuk menjaga stabilisasi pangan.

Berbagai kebijakan mengatur perdagangan pun diterbitkan pemerintah.  Untuk beras, ada Inpres No. 5/2017 tentang Perberasan yang mengatur Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah/beras. Untuk menjaga agar harga beras tidak melambung tinggi, Menteri Perdagangan mengeluarkan kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras.

Menteri Perdagangan juga menetapkan Permendag No. 21/2016 tentang penetapan harga acuan di tingkat petani untuk komoditas jagung. Harga jagung berbeda berdasarkan kadar air jagung yang dijual petani. Tujuannya adalah memberi insentif kepada petani agar semakin giat meningkatkan produksi.

Untuk kedelai, pada 16 Mei 2017 Menteri Perdagangan menerbitkan Permendag No. 5/2017 tentang Penetapan Harga Acuan pembelian di petani dan Harga Acuan Penjualan di konsumen. HBP kedelai adalah Rp 8.500/kg dan harga kedelai impor Rp 6.500/kg. Harga Eceran Tertinggi (HET) kedelai lokal sebesar Rp 9.200/kg dan HET kedelai impor Rp 6.800/kg.

Kebijakan lainnya adalah Peraturan Menteri Perdagangan No.27/2017 yang menetapkan harga acuan gula petani (HPP) sebesar Rp 9.100/kg dan HET gula ditingkat konsumen Rp 12.500/kg. Untuk daging, Menteri Pertanian mengeluarkan Permentan No. 17/2016 tentang pemasukan daging tanpa tulang dalam hal tertentu yang berasal dari negara atau zona dalam suatu negara asal pemasukan

Sementara itu Kementerian Pertanian sejak dua tahun terakhir  mengembangkan Toko Tani Indonesia (TTI) untuk menjaga stabilisasi harga pangan di tingkat konsumen. Dengan TTI, satu harapan pemerintah adalah memotong mata rantai pemasaran yang selama ini terlalu panjang. Jika sebelumnya mencapai delapan hingga sembilan tahapan, maka dengan TTI bisa terpangkas tinggal tiga tahap.

“Petani nantinya bisa mendapatkan harga yang layak, konsumen juga untung, karena harga tidak melonjak, seperti saat Ramadhan dan Lebaran,” kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat menengok TTI Centre. Bukan hanya itu Amran berharap, dampak lebih lanjut adalah tingkat inflasi yang biasanya terangkat karena kenaikan harga pangan bisa tertahan.

 

Pengembangan Klaster

Pengembangan TTI memang menjadi salah satu alternatif pemasaran bagi petani. Melalui program PUPM (Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat) hingga tahun ini, sudah ada 1.156 gabungan kelompok tani (Gapoktan) dan 3.000 TTI di 22  provinsi. Bahkan tahun 2018 ada 20 provinsi yang siap membangun Toko Tani Indonesia Center (TTIC). Di DKI Jakarta, TTIC berada di kawasan Pasar Minggu. Lokasinya di depan SMU Negeri 28.

Persoalannya bagaimana agar pasokan pangan ke TTI berjalan lancar, sehingga harapan pemerintah rantai pasok menjadi lebih ringkas? Amran mengatakan, pemerintah mengembangkan sistem klaster komoditas. “Kita sedang membangun klaster komoditas pertanian sesuai agroklimat dan kultur masyarakat setempat. Jadi berdasarkan keunggulan masing-masing daerah,” ujar Amran.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162