Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - Yuk Budidaya Beras Merah

10:27 WIB | Monday, 24-July-2017 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani - Yuk Budidaya Beras Merah

 

Beras merah memang bukan hal baru bagi dunia pertanian Indonesia. Namun beras jenis ini belum banyak dibudidayakan petani, padahal prospeknya sangat menjanjikan.

 

Apalagi kini tren masyarakat dalam mengonsumsi makan­an sehat makin besar. Beras merah menjadi salah satu asupan karbohidrat yang sehat. Beras merah kerap diidentikkan dengan beras sehat. 

 

Bagi penderita diabetes beras ini menjadi alternatif untuk mengisi perut karena kandungan glukosanya rendah. Beras merah dikenal karena memiliki pigmen merah yang mengandung senyawa antioksidan yang dipercaya baik bagi kesehatan tubuh. 

Beras merah umumnya dihasil­kan tanpa melalui proses penyosohan, tapi hanya digiling menjadi beras pecah kulit. Kulit arinya masih melekat pada endosperm. Kulit ari beras merah ini kaya akan minyak alami, lemak esensial dan serat. Kandungan serat pada beras merah dapat mencegah penyakit saluran pencernaan. Serat juga dapat meningkatkan perkembangan otak dan menurunkan kolesterol darah.

 

Pasarnya Menjanjikan 

Di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, tepatnya di Desa Mekarwangi, Kecamatan Cisayong ada salah satu Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang menghasilkan beras merah. Bahkan sudah menembus pasar mancanegara. Gapoktan tersebut bernama Simpatik.

Menurut Ketua Gapoktan Simpatik, Syaiful Bahri atau yang akrap disapa Haji Uu, beras merah yang dihasilkan telah melanglangbuana ke Eropa hingga Negeri Paman Sam (Amerika Serikat). Permintaannya pun cukup tinggi. “Kita di sini pada dasarnya memang menghasilkan beras organik. Salah satunya beras merah yang sangat disukai masyarakat dunia, terutama Negeri Jiran (Malaysia),” katanya.

Beras merah memang bukan produksi utama dari Gapoktan Simpatik, tapi beras tersebut menjadi unggulan Gapoktan Simpatik untuk menembus pasar mancanegara. Di beberapa produk ekspor, ada jenis Volcano dan Rainforest yang merupakan beras campuran yang di dalamnya terdapat beras merah. 

“Yang kita jual ke luar negeri lebih banyak beras campuran. Seperti Volcano merupakan beras campuran dari beras merah, beras coklat dan beras merah muda. Lalu Rainforest merupakan campuran beras merah, beras hitam dan beras merah muda. Ini untuk pasar yang Eropa. Tapi yang benar-benar beras merah itu banyak datang permintaan dari Malaysia,” tutur Haji Uu.

Varietas beras merah yang ditanam di Gapoktan Simpatik adalah Aek Sibundong dan Inpari-24. Haji Uu beralasan, varietas ini yang direkomendasikan Kementerian Pertanian (Kementan) dan hasil panennya cukup tinggi. “Tasikmalaya iklimnya bagus untuk tanam padi, bahkan hasil panen beras merah bisa mencapai 7 ton/ha,” ujarnya.

Keunggulan beras merah yang diproduksi Gapoktan Simpatik adalah beras organik. Karena itu harga jualnya lebih mahal ketimbang beras merah yang non organik. Apalagi teknik budidayanya lebih rumit dibandingkan konvensional. 

Haji Uu mengakui, biaya pengolahan beras organik cukup mahal. Kalkulasinya, untuk satu ton beras organik berwarna (merah, hitam, coklat dan merah muda), biaya pemisahannya mencapai Rp 24 juta. “Karena pemisahan beras berwarna dan yang berwarna putih dilakukan secara manual, dipilah satu per satu,” tambah Uu.

Dalam bertanam padi organik, Gapoktan Simpatik mengganti pupuk kimia dengan mol-mikroorganisme lokal. Pupuk itu terdiri dari campuran keong mas, air beras, air kelapa, dan gula. Selain itu, untuk menanggulangi hama mengandalkan pestisida nabati dari campuran daun nimba, serai wangi, bawang putih, daun srikaya, sabun colek, dan abu dapur sebagai pengganti pestisida kimia. Untuk membenahi struktur kimia, fisika dan biologi tanah, Haji Uu memberikan 5 ton/ha kompos. “Biarpun sedikit rumit, tetapi hasilnya maksimal. Harganya jauh lebih tinggi dibandingkan harga di pasaran,” katanya bangga.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162