Loading...

e-Tabloid Sinar Tani - Menimbang HET Beras

10:29 WIB | Tuesday, 26-September-2017 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-Tabloid Sinar Tani - Menimbang HET Beras

 

Pemerintah telah mengetok palu Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 57 Tahun 2017 mengenai Harga Eceran Tertinggi (HET) beras, baik untuk kualitas medium maupun premium. Sejauh mana efektifitas kebijakan tersebut? Masyarakat bisa melihat setelah 15 September mendatang saat HET beras mulai berlaku.

 

Seperti diketahui, gonjang-ganjing harga beras yang terjadi tiap tahun kerap membuat repot pemerintah. Pasalnya, melambungnya harga bahan pangan pokok tersebut bisa mengerek laju inflasi. Tak ingin kejadian tersebut terulang tiap tahun, pemerintah akhirnya memutuskan untuk mengatur batas atas harga beras dengan kebijakan HET.

Beleid tersebut menetapkan HET beras medium dan premium dengan pembagian wilayah. Untuk Jawa, Lampung dan Sumatera Selatan HET beras medium Rp 9.450/kg, premium Rp 12.800/kg. Sedangkan untuk wilayah Sumatera lainnya HET beras medium Rp 9.950/kg, premium Rp 13.300/kg. Untuk wilayah Kalimantan HET beras medium Rp 9.950/kg, premium Rp 13.300/kg. 

Sementara wilayah Sulawesi HET beras medium Rp 9.450/kg, premium Rp 12.800/kg. Wilayah Bali dan NTB beras medium Rp 9.450/kg, premium Rp 12.800/kg. Adapun di NTT HET beras medium Rp 9.500/kg, premium Rp 13.300/kg. Untuk wilayah Maluku dan Papua, pemerintah menetapkan HET beras medium Rp 10.250/kg dan beras premium Rp 13.600/kg.

Salah satu alasan keluarnya kebijakan tersebut menurut Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Ke­men­terian Perdagangan RI, Tjahja Widayanti berdasarkan kajian Produk Domestik Bruto (PDB) Tri­wulan I 2017 yang menempatkan konsumsi belanja rumah tangga di posisi dominan (56,9%). 

Nah, sebagian besar konsumsi merupakan belanja makanan dan minuman. Sedangkan rata-rata konsumsi per kapita porsi paling besar adalah konsumsi beras (21%). Diikuti telur ayam ras, telur ayam kampung dan gula pasir. “Dengan konsumsi yang besar ini, maka berpengaruh besar pula pada harga beras. Mirisnya, beras juga memberi sumbangan faktor kemiskinan. Saat harga beras naik, maka kemiskinan bisa meningkat,” ungkap Tjahja.

Data Kementerian Perdagangan menyebutkan, kenaikan harga beras terjadi sejak tahun 2015. Jika pada tahun 2014, harga beras kualitas medium masih berkisar Rp 8 ribu-9 ribu/kg, maka tahun 2015 naik menjadi Rp 9 ribu-10 ribu/kg. Sedangkan tahun 2016 hingga sekarang bertahan di harga lebih dari 10 ribu per kilogramnya. 

Bahkan menurut Tjahja, di daerah harga beras medium sudah lebih dari Rp 10 ribu/kg. Posisi ini stabil tinggi. “Melihat harga yang cenderung tinggi dan jika naik terus dan tidak dihambat, maka tidak ada yang bisa membatasi, mungkin hanya langit yang membatasi. Karena itulah pemerintah bersama stakeholder, termasuk penggilingan padi, sepakat menerapkan HET beras,” ungkapnya.

Sebenarnya pemerintah sudah beberapa kali mengeluarkan kebijakan mengenai beras. Salah satunya Permendag 27/2017 yang menetapkan HET Rp 9.500/kg dan Permendag 47 (belum diundangkan) yang menetapkan HET 9 ribu/kg. Dua Permendag itu tidak memisahkan harga untuk beras medium maupun premium. 

Berbeda dengan peraturan HET beras sebelumnya, Permendag No. 57/2017 ini diterapkan untuk dua jenis beras yaitu medium dan premium. Pembedanya hanya tingkat kepecahan atau broken maksimal 25%, premium 15%. Tjahja menilai, dengan perbedaan harga berdasarkan zonasi membuat HET lebih efektif di lapangan. Khususnya untuk daerah timur yang memerlukan biaya transportasi cukup tinggi. 

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162