Loading...

Fokus Komoditi Strategis

11:07 WIB | Friday, 30-December-2016 | Komoditi, Pangan | Penulis : Julianto

Pencapaian ini tentu saja tidak terlepas dari upaya khusus yang dilakukan Kementerian Pertanian dengan fokus utama kepada 11 komoditas strategis pertanian. Yakni, padi, jagung, kedelai, gula, daging sapi/kerbau, cabai, bawang merah, kelapa sawit, karet, kopi dan kakao.

 

Tentunya upaya khusus tersebut terintegrasi dari hulu hingga hilir. Di sisi hulu, meliputi perbaikan infrastruktur khususnya jaringan irigasi, subsidi pupuk, dan bantuan benih dari program melalui program optimasi lahan. Pemerintah juga memberikan bantuan alat dan mesin pertanian pra dan pasca panen. Dengan mekanisasi telah mengurangi ongkos yang harus dibayar petani.

 

Pada sisi hilir, upaya ekstra Kementerian Pertanian bersama Perum Bulog dalam operasi serap gabah petani (Sergap) untuk mengendalikan harga jual gabah sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Di tingkat petani, pemerintah menjaga dengan HPP sebesar Rp 3.700/kg gabah kering panen (GKP). Sedangkan di tingkat konsumen dengan harga Rp 7.300/kg beras.

 

Selain menjaga stabilitas harga pembelian gabah sesuai HPP dan menjamin stok yang mencukupi, operasi Sergap ini juga ditujukan memotong rantai pasok dari gabah ke beras yang telalu panjang. Selama ini panjangnya mata rantai pemasaran mengakibatkan disparitas harga gabah ke beras cenderung melebar. Rantai pasok gabah ke beras yang semula mengalir pada sembilan level, melalui operasi sergap ini menjadi hanya tiga level. 

 

Upaya pada sisi hilir ini, yang tidak hanya untuk komoditas padi, tetapi juga pada komoditas lainnya seperti bawang dan cabai melalui perbaikan manajemen waktu dan lokasi tanam, serta operasi pasar. Untuk menjaga stabilisasi harga, pemerintah melalui Badan Ketahanan Pangan mengembangkan Toko Tani Indonesia (TTI). TTI juga diharapkan bisa memangkas mata rantai pemasaran produk pertanian.

 

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati mengakui, berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) produksi lima pangan strategis (padi, jagung, kedelai, daging sapi, gula) tahun 2015 mengalami kenaikan, kecuali gula karena banyak terjadi kegagalan panen. Bahkan impor, hampir sebagian mengalami penurunan. “Beras, jagung, kedelai dan sapi mengalami kenaikan produksi. Karena produksi gula turun, makanya di tahun 2015 impor gula meningkat,” katanya.

 

Namun Enny memberikan catatan, di hulu, terutama petani padi masalah klasik masih terjadi tiap tahun. Misalnya, susut tahap panen/pascapanen tinggi, rendemen giling rendah, kualitas beras rendah, dan biaya pengolahannya tinggi. “Ini permasalahan yang klasik, setidaknya pada tahun yang akan datang hal ini harus segera diperbaiki,” tegasnya. Yul/Humas BKP

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162