Loading...

Gambut & Pesisir Riau, Kiblat Pangan Indonesia

09:34 WIB | Thursday, 08-June-2017 | Teknologi, Klinik Teknologi | Penulis : Kontributor

Sebelum kita mendarat di Bandar Udara Syarif Kasim, Pekanbaru, Riau, potret alam yang bisa kita saksikan pertama adalah bentangan kebun kelapa sawit. Kanopi daun sawit seolah terjalin membentuk karpet alam berwarna hijau yang bisa dinikmati sepanjang mata memandang. Setelah mendarat, kitapun lantas tersadar bahwa kita sedang berada di ladang minyak bumi Indonesia, sehingga pantas jika banyak orang yang menjulukinya dengan sebutan “Di bawah ada minyak bumi, di atasnya kaya minyak sawit”.

 

Dua sumber ekonomi itu memang telah mendorong Riau termasuk ke dalam propinsi yang kaya. Berkah yang berlimpah ini ternyata belum selesai disitu. Propinsi ini ternyata telah dikaruniai dengan lahan gambut yang begitu besar. Ada 4,3 juta hektar lahan gambut terpendam di bumi ‘Lancang kuning’ ini. Angka itu memposisikan Riau sebagai daerah terluas (56%) di Sumatera yang memiliki lahan gambut atau sama dengan 40% dari luas daratan Provinsi Riau yang besarnya 9,4 juta ha.

 

Saat ini lahan gambut di Provinsi Riau sudah banyak beralih fungi (dikonversi). Dalam kurun 12 tahun terakhir, sedikitnya sekitar 2,4 juta hektar lahan gambut yang menjadi penyimpan karbon di Provinsi Riau musnah akibat berubah fungsi menjadi perkebunan.

 

Perubahan fungsi lahan gambut di Provinsi Riau menyebakan kerusakan pada ekosistem gambut itu sendiri. Kerusakan yang terjadi umumnya karena kebakaran. Hal ini menjadi lebih parah oleh karena proses pembukaan atau pembersihan dilakukan dengan cara membakar gambut (pembakaran dengan sengaja).

 

Memang dominasi kebun sawit beitu besar di gambut Riau, namun dibalik lahan yang berubah fungsi itu ada yang terbengkalai atau beralih komoditi. Terutama ini banyak terjadi diperkebunan sawit rakyat. Lahan sawit yang ‘idle’ dan sisa potensi lahan gambut diluar konservasi lahan, masih memungkinkan untuk pengembangan tanaman pangan seperti padi.

 

Kiblat pangan

 

Melihat peluang itu, BPTP Riau mencoba berbagai terobosan teknologi yang didukung oleh berbagai perangkat desiminasi untuk menjadikan padi sebagai komoditas unggulan ekonomi setelah sawit dan minyak. Langkah yang ditempuh oleh balai ini tidak hanya terbatas pada pemanfaatan potensi lahan gambut tetapi juga telah diperluas untuk mengoptimalkan lahan pesisir yang juga mampu medukung pangan Propinsi Riau.

 

Untuk melihat penerapan inovasi teknologi diberbagai lahan marginal ini, Jelajah Inovasi pekan lalu berhasil bertandang ke daerah itu. Kepala BPTP Riau, Kuntoro Boga Andri sangat antusias mendampingi selama penjelahan ini, dan diperkuat oleh para peneliti-peneiti handal seperti Parlin H Sinaga dan Dwi Sisriyeni.

 

Dari penjelajahan ini bisa diambil kesimpulan kecil bahwa setelah melihat dampak inovasi teknologi padi di lahan marginal itu yang dikaitkan dengan besarnya potensi lahan gambut dan pesisir sangat memungkinkan Propinsi Riau akan menjadi kiblat pangan nasional, Keberhasilan yang telah diraih oleh BPTP Riau bisa ditiru oleh daerah lain yang memiliki potensi lahan yang sama.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162