Loading...

Gopan Antisipasi Masuknya Ayam Impor

16:15 WIB | Monday, 07-May-2018 | Ternak | Penulis : Pimpinan Redaksi

Kekalahan Indonesia dalam sidang WTO terkait perunggasan menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha ayam ras. Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) pun merekomendasikan beberapa langkah antisipasi menghadapi  kemungkinan bakal kian derasnya masuk ayam impor.  

 

 Sebagaimana diketahui, putusan final kasus sengketa Indonesia-Brasil (DS484) telah disirkulasikan oleh Panel WTO pada 17 Oktober 2017. Pada kasus tersebut, Brasil mengajukan sembilan gugatan terhadap ketentuan kebijakan Indonesia tentang importasi produk hewan.

 

Panel tersebut meluluskan Brasil memenangkan empat gugatan terhadap ketentuan impor Indonesia yang dianggap bertentangan dengan Perjanjian WTO. Lima ketentuan lainnya ditolak karena Brasil dianggap gagal membuktikan ketentuan tersebut bertentangan dengan Perjanjian WTO.

 

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita menuturkan bahwa Pemerintah Indonesia saat ini tengah berada pada masa implementasi 2018 dalam rangka menyelaraskan regulasi kebijakan importasi daging ayam dan produknya sesuai rekomendasi panel WTO.

 

" Kami  masih upayakan dengan Kementerian Perdagangan, produk ayam yang nantinya masuk kesini harus berlabel halal," tuturnya. Sebelumnya aturan berlabel halal yang diterapkan Indonesia dan digugat oleh Brazil, tidak terbukti melanggar aturan WTO. 

 

 Ketua GOPAN, Herry Dermawan menilai aspek kehalalan sudah tidak bisa dijadikan tameng karena Brazil  juga telah memiliki badan tersendiri yang mengurus terkait halal tidaknya suatu produk. "Perlu ada cara lain, misalnya memanfaatkan  kondisi kurang sukanya konsumen lokal dengan ayam beku," usulnya. 

 

Di sisi lain khususnya dalam hal budidaya, Indonesia harus bisa bersaing dari segi efisiensi produksi karena biaya produksi di Brazil jauh lebih rendah dibandingkan di dalam negeri. "Brazil itu sumber jagung dunia, disana harga jagung murah paling mahal Rp 2.200, di Indonesia di harga Rp 4 ribuan. Karena itu harga pakan disana lebih murah mengingat jagung porsinya lebih dari  50 persen dalam biaya bahan baku pakan ," ungkap Herry. 

 

Ketua Harian GOPAN sekaligus Dewan Pembina PPUN (Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara), Sigit Prabowo menambahkan, disamping  pakan efisiensi di hulu sesungguhnya juga perlu di aspek perbibitan .  

 

Sudah  saatnya , menurut Sigit, Indonesia memiliki pureline atau Great Grand Parent Stock (GGPS) sendiri. "Dulu awalnya untuk pengadaan bibit  kita impor Parent Stock (PS) kemudian sekarang Grand Parent Stock (GPS) . Kalau kita terus mengandalkan dan tergantung dari luar , kita bisa diatur mereka," tuturnya. 

 

Sigit menilai akan berat produk Indonesia bisa bersaing dengan produk kompetitor selama tidak ada upaya  meningkatkan efisiensi dalam  menghasilkan pakan dan bibit ayam. “Ini memang tak mudah dalam implementasinya, karena seperti dalam pengadaan jagung saja kita terkait dengan banyak institusi terkait,” ujarnya.

 

Karenanya, GOPAN meminta kepada pemerintah supaya harga jagung lokal tidak terlalu signifikan perbedaannya dengan jagung impor. Ia  yakin jika pemerintah telah memiliki  skema tertentu agar petani jagung tidak mengalami kerugian, namun peternak bisa membeli jagung lokal dengan harga  kompetitif sehingga pada akhirnya biaya produksi peternak dapat ditekan dan produk daging ayam dan telur yang dihasilkan bisa lebih berdaya saing.

 

Untuk diketahui, HPP ayam dalam kondisi hidup (life bird)  saat ini masih di besaran sekitar Rp 16.500 per kg. Agar efisien seharusnya HPP diantara Rp 14 ribu – 15 ribu per kg berat hidup.

 

 "Kelihatannya berat untuk bisa mencapai  HPP sebesar  itu," tuturnya. Gsh/Ira

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162