Loading...

e-Paper Tabloid Sinar Tani - GSR, Padi Masa Depan

12:51 WIB | Saturday, 09-September-2017 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-Paper Tabloid Sinar Tani - GSR, Padi Masa Depan

 

Wereng batang cokelat (WBC) hingga kini masih menjadi momok bagi petani padi. Penggunaan pestisida yang kerap berlebihan oleh petani justru membuat hama tersebut kebal dan berkembang. Setidaknya kini ada tiga biotipe wereng.

 

Antisipasi dini menjadi salah satu kunci menangkal serangan hama wereng. Misalnya dengan tindakan preemtif dari mulai pengolahan tanah hingga cara budidaya tanaman padi. Selain melakukan pencegahan, petani juga disarankan membudidaya padi yang tahan terhadap serangan wereng (biotipe 1,2, dan 3).

 

Ada dua varietas padi tahan wereng yang telah diperkenalkan Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Penelitian Tanaman padi (BB Padi). Varietas tersebut adalah  Green Super Rice (GSR) Inpari 42 dan Inpari 43. Bukan hanya bisa ditanam di lahan kering (tadah hujan), varietas yang dilepas pertengahan 2016 ini juga tahan genangan. Kelebihan lainnya adalah potensial produktivitasnya mencapai 10 ton/ha.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman pun mem­per­kenalkan keunggulan padi varietas GSR ini saat pelantikan pengurus Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (MPPI), di Jakarta, beberapa waktu lalu. Bahkan, secara simbolis, Mentan menyerahkan benih GSR Inpari 42 dan Inpari 43 kepada Ketua Umum MPPI, Herman Khaeron untuk menyebarkan benih padi genjah tahan wereng tersebut ke anggota MPPI.

“Belakangan ini ada sejumlah daerah yang  terkena serangan wereng meski tak mengkawatirkan. Kita sudah merelease padi yang tahan hama wereng, Inpari 42 dan 43 dengan produktivitas mencapai 10 ton/ha. Kami harapkan varietas padi tahan wereng yang baru ini bisa disebarkan melalui anggota MPPI,” kata Amran.

Amran berharap, dengan dimasyarakatkan benih padi tahan wereng tersebut, produksi padi meningkat dan petani tak perlu kuatir lagi dengan hama wereng. Selain tahan terhadap wereng, padi GSR ini juga tahan penyakit blas dan hawar daun. 

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Muhammad Syakir mengatakan, kedua jenis padi tersebut selain tahan wereng juga bisa ditaman di lahan tadah hujan dan tergenang. Artinya, varietas GSR tersebut sangat toleran terhadap lingkungan. “Padi varietas tahan wereng tersebut sudah diuji coba di sejumlah daerah dan hasil produksinya mencapai 10 ton per ha,” ujarnya. Karena itu dia berharap, kedua varietas padi GSR ini bisa menjadi pilihan petani untuk meningkatkan produktivitas tanaman.

 

Banyak Kelebihannya

GSR  adalah istilah yang ditujukan untuk varietas padi yang memiliki daya hasil tinggi dan lebih ramah lingkungan. Sebab, varietas tersebut mampu mengurangi penggunaan input seperti pestisida, pupuk kimia, dan air. 

Di samping itu varietas padi GSR juga mampu menghasilkan hasil yang tinggi dalam kondisi sub-optimum, seperti kekeringan dan kebanjiran. Karena itu kedua varietas GSR itu bisa disebut varietas amphibi. Harapannya ke depan dapat mengatasi masalah yang muncul akibat perubahan iklim global.

Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), Moh. Ismail Wahab mengatakan, varietas padi  GSR  memang dirancang agar mampu berdaya hasil tinggi, baik pada kondsi optimum maupun ketika daya dukung lingkungannya dalam kondisi terbatas.  Padi jenis ini juga dirancang memiliki ketahanan terhadap hama penyakit, sehingga bisa meminimalisir pestisida.

“Dengan kelebihan itu, Inpari 42 dan Inpari 43 akan menjadi benih padi masa depan. 

Sebab, mampu memberikan hasil panen yang tinggi,  dan mampu berdaya hasil tinggi dengan input usaha tani relatif. Artinya, padi ini dikelola secara ekonomis tapi hasilnya tetap tinggi,” papar Ismail.

Mantan Kepala BPTP Jawa Tengah ini mengungkapkan, keunggulan lain padi varietas GSR ini adalah respon terhadap pupuk rendah. Artinya, pada kondisi pemberian pupuk 75% dari dosis rekomendasi PHSL kedua varietas ini masih mampu menghasikan hasil 5,2 ton/ha dan 6,71 ton/ha dibandingkan Ciherang yang hanya 4,7 ton/ha. “Ini karena kedua varietas tersebut didukung perakaran yang dalam,” ujarnya.

Umur kedua varietas tersebut juga lebih genjah 3-5 hari dari Ciherang yakni 110 hari. Kedua varietas tersebut bertipe malai lebat dengan posisi malai di tengah daun bendera, sehingga terhindar dari serangan burung. Karena keluarnya malai lebih cepat 5-7 hari dibanding padi lainnya (50 hari), pengisian gabahnya menjadi lebih cepat, sehingga usia genetiknya juga lebih panjang. 

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162