Loading...

Harapan Demi Harapan

10:41 WIB | Monday, 25-September-2017 | Kolom, Agri Wacana | Penulis : Kontributor

Oleh: Sjamsoe’oed Sadjad

 

Dalam usia yang sudah merangkak mendekati kepala angka sembilan ini saya masih memiliki greget untuk menciptakan harapan dalam otak saya. Rasanya otak tua macam saya sudah sulit untuk dipakai berpikir. Untuk menyimpan apa yang dibaca saja sudah sulit, apalagi untuk diharapkan menghasilkan buah pemikiran. Tinggal apakah masih ada sisa semangat untuk melangkah menggapai harapan hidup yang berarti masih hidup. Tiap langkah selama masih hidup harus mengandung harapan. Langkah berikutnya bagaimana menggapai harapan. Akhirnya tercapai suksesnya harapan barulah hidup ada artinya.

 

Waktu masih muda harapan itu bertubi-tubi datangnya. Bahkan bisa menjadi cita-cita hidupnya. Bila keras upayanya cita-cita bisa dicapai sebagaimana yang diharapkan. Namun ada pula yang tidak bisa tercapai. Langkah selanjutnya harus bisa melahirkan harapan baru. Inilah yang disebut dedikasi.

 

Harapan dan dedikasi memang bagaikan dua sisi uang logam, satu sisi saja tidak ada arti. Baru ada harapan kalau harapan dan dedikasi menjadi satu wujud. Jadi orang hidup harus punya harapan dan dedikasi. Hanya dedikasi tanpa memiliki harapan tidak akan ada artinya hidup. Begitu juga kalau sebaliknya. Punya harapan tanpa dedikasi itu hanya mimpi.

 

Dengan memiliki dedikasi dan harapan dalam hidup akan timbul dinamika dalam hidup. Kalau orang sudah memiliki langkah, orang berarti punya dinamika. Dalam dinamika orang bisa optimistis atau sebaliknya pesimistis mewujudkan harapannya. Namun, keduanya tidak perlu berpengaruh terhadap dinamika orang meraih cita-cita sesuai yang diharapkan.

 

Hanya orang tidur yang tidak memiliki dedikasi. Bisanya hanya bermimpi. Sebelum tidur orang masih mempunyai harapan seperti supaya pulas tidurnya. Dedikasinya juga sudah pudar. Orang hanya bisa pasrah dan harapan sesudah tidur dan bangun kembali. Orang kembali memiliki dedikasi untuk hidup dihari berikutnya. Kembali orang memiliki harapan pada setiap langkah yang orang akan lakukan. Begitulah orang punya dedikasi dalam hidupnya.

 

Ditinjau dari soal harapan dan dedikasi kelihatan seperti sederhana proses hidup seseorang itu. Tetapi mana orang bisa hidup sendirian di alam dunia ini. Timbullah masalah orang bermasyarakat. Orang hidup dalam kelompok, mau tidak mau dari kelompok kecil, akhirnya membesar, menjadi masyarakat dan membentuk suatu bangsa.

 

Suatu bangsa juga harus punya harapan dan berdedikasi untuk bisa mewujudkan harapan besar yang tentunya harapan yang baik dan mulia. Masalahnya tidak lagi sederhana dan menjadi kompleks. Karena itu diperlukan peraturan, perundangan dan harus ada yang mengatur, membina, menghukum kalau orang berbuat salah, begitu prosesnya hingga terwujud pemerintahan negara dari suatu bangsa yang bernegara merdeka.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Pimpinan Redaksi

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162