Loading...

Harga Cabai dan Daulat Pangan

11:16 WIB | Tuesday, 03-January-2017 | Agri Wacana, Kolom | Penulis : Kontributor

Memasuki tahun baru pemerintah dibuat pusing lagi oleh melonjaknya harga cabai. Di beberapa daerah harga cabai telah meroket menyentuh angka Rp 100.000/kilogram. Harga ini tentu sangat tidak wajar dan memberatkan masyarakat pecinta cabai. Bayangkan, hanya untuk menikmati sepotong tahu lengkap dengan cabai harus mengeluarkan uang ribuan rupiah.

 

Ironisnya, harga cabai yang mahal ternyata sama sekali tidak memberi tambahan kesejahteraan pada petani cabai. Ketika harga melonjak mahal seperti sekarang ini, bisa dipastikan sebagian besar petani sudah tidak lagi memiliki cabai. Artinya, mereka tidak mendapat nilai tambah dari mahalnya harga cabai.

 

Lucunya, melonjaknya harga cabai sudah seperti siklus rutin yang selalu terjadi dan berulang dalam periode waktu tertentu. Padahal potensi negeri ini untuk memproduksi berapa pun banyaknya cabai sangat memungkinkan. Rasanya tidak pantas negeri subur ini menjadi ‘panas’ hanya karena urusan cabai.

 

Oleh karena itu patut diapresiasi langkah cepat pemerintah untuk segera menggelontorkan ratusan miliar rupiah untuk segera menyelesaikan melonjaknya harga cabai. Kuncinya memang pada penataan produksi, terutama terkait dengan pewilayahan produksi, teknologi, dan dukungan sumber pembiayaan. Namun lebih dari itu, bingkai utamanya adalah komitmen untuk mewujudkan daulat cabai, atau dalam skala yang lebih luas, daulat pangan di negeri sendiri.

 

Gejolak haga cabai hanya contoh kecil dari komitmen mewujudkan daulat pangan di negeri ini. Kedaulatan pangan memang harus segera diwujudkan di negeri ini. Tanah subur, air melimpah, matahari yang bersinar sepanjang tahun, sumber daya manusia yang banyak merupakan potensi untuk mewujudkan kedaulatan pangan di negeri ini.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162