Loading...

HET Beras dan Nasib Petani Padi

09:58 WIB | Monday, 11-September-2017 | Editorial, Editorial | Penulis : Ahmad Soim

Kebijakan baru Harga Eceran tertinggi beras mulai diterapkan 1 Septermber 2017. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita  menerbitkan Permendag No 57 tahun 2017 tentang  HET untuk beras ini tanggal 24 Agustus 2017.  Permendag ini dibuat pasca dicabutnya Permendag No 47/2017 yang juga mengatur harga eceran tertinggi beras.

 

Pada aturan lama, HET berlaku buat semua jenis beras, sementara Permendag penggantinya membedakan harga berdasarkan jenis beras dan wilayah edar.  Beras dibagi tiga: medium, pre­mium, dan khusus. Wilayah dibagi dua: sentra produksi dan sentra konsumsi. Jawa ; Lampung, Sumsel, Bali, NTB, dan Sulawesi ditetapkan sebagai sentra produksi. Sisanya adalah wilayah sentra konsumsi. HET beras khusus tak diatur.

 

Harga eceran tertinggi (HET) beras medium di sentra produksi ditetapkan Rp 9.450 per kilo­gram, sedangkan di sentra konsumen Rp 9.950 – Rp 10.250/kg, bergantung ongkos transportasi. HET beras premium di sentra produksi dipatok Rp 12.800/kg, sedangkan di sentra konsumen Rp 13.300 – Rp 13.600/kg, bergantung ongkos transportasi.

 

Pelaku usaha nyaris tak punya waktu menyesuaikan diri. Padahal, ini berlaku nasional, di pasar tradisional dan modern. Sebagian peritel/ pengecer beras meminta agar ada keuntungan 8 persen dari harga jual. Kalau harga beras medium di tingkat konsumen tertingginya Rp 10.250 per kg, maka harga di tempat produksinya akan tertekan menjadi Rp 9.430 per kg, belum termasuk ongkos kirim dan keuntungan pedagang pemasok. Bila peritel memaksakan kehendaknya, maka harga gabah di tingkat petani bisa ikut tertekan.

 

Kebijakan HET beras ini sudah tentu baik dan menguntungkan konsumen, namun belum tentu baik bagi petani produsen. Selain berpotensi menekan harga jual gabah di tingkat petani, yang perlu diperhatikan dengan adanya HET ini adalah petani bisa kehilangan mendapatkan nilai tambah dari produksi berasnya yang berkualitas. Sekali lagi, peluang untuk mendapatkan nilai tambah buat petani produsen hendaknya bisa dibuka oleh pemerintah.

 

Karena itu kebijakan HET untuk beras ini belumlah ideal untuk masa depan petani padi. Yang diharapkan oleh petani adalah harga dasar yang menguntungkan petani untuk beras produksinya. Dengan kebijakan harga dasar atau harga pembelian pemerintah yang menguntungkan dan efektif bisa memberikan jaminan kepastian harga jual di tingkat petani. Kebijakan HET ini juga belum bisa memberikan jaminan kepada petani bahwa harga jual gabahnya tidak akan turun saat panen raya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162