Loading...

Himbauan Pemerintah kepada Petani: Tetap Produktif Saat Kemarau

10:47 WIB | Monday, 10-September-2018 | Sarana & Prasarana, Non Komoditi | Penulis : Julianto

Dirjen PSP, Pending Dadih Permana saat meninjau lahan rawa tempat lokasi HPS

Meski musim kemarau yang menyebabkan kekeringan di sejumlah daerah, namun pemerintah meminta petani tetap semangat untuk terjun ke sawah. Tidak hanya mendorong mengoptimalkan lahan sawah dengan penyediaan air, tapi juga melalui pemanfaatan lahan rawa dan lahan kering.

 

Data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyebutkan bahwa luas lahan sawah di Indonesia mencapai 8,19 juta ha. Saat musim kemarau seperti saat ini, lahan sawah masih dapat tetap dioptimalkan untuk menanam komoditas pangan, namun perlu diimbangi dengan upaya penyediaan air.

 

“Pada musim kemarau, produksi padi sawah dapat diantisipasi dengan memanfaatkan embung, bendungan dan waduk. Selain itu, perbaikan sistem irigasi cukup bisa mengantisipasi dampak kekeringan,” kata Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Sumarjo Gatot Irianto.

 

Menurutnya, selama masih ada sumber air, menanam komoditas pangan di lahan sawah justru bisa meningkatkan kualitas produksi. Sebab, sinar matahari pada musim kemarau cukup panjang, sehingga cukup baik untuk fotosintesis. Proses pengeringan juga lebih mudah dan menghemat biaya. “Selain hasil yang lebih bagus, serangan hama penyakit relatif berkurang,” ujarnya.

 

Pemanfaatan Lahan Rawa

 

Selain mengoptimalkan lahan sawah, pemerintah mendorong petani memanfaatkan lahan rawa yang pada musim kemarau biasanya akan surut. Data Ditjen Tanaman Pangan, lahan rawa sebagai lahan suboptimal potensinya mencapai 12,3 juta ha. Sayangnya pemanfaatannya belum optimal, baru sekitar 4,53 juta ha (36,8%) untuk produksi pertanian. “Ini adalah kesempatan menambah luas areal tanam baru untuk produksi padi di musim kemarau,” tegasnya.

 

Selain lahan yang potensial untuk digarap saat musim kemarau, pemerintah juga mendorong petani untuk tetap memanfaatkan lahan kering. Potensi luas lahan kering di Indonesia juga sangat besar, diperkirakan mencapai 28,58 juta ha, termasuk ladang, tegalan dan lahan yang tidak diusahakan menjadi Perluasan Areal Tanam Baru (PATB).

 

Bahkan kata Gatot, pemerintah kini menjadikan pengembangan lahan kering sebagai fokus pengembangan budidaya padi. Teknologinya pun sudah dipersiapkan, yakni dengan mendorong petani menanam padi gogo. Kementerian Pertanian menargetkan pertanaman 1 juta ha padi gogo pada tahun 2018.

 

Menurut Gatot, pada musim kemarau, padi gogo di lahan kering dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin karena hasil panen lebih bagus, hama lebih sedikit, hemat air, sinar matahari juga cukup baik untuk fotosintesis dan kualitas gabah lebih baik. “Selain padi gogo, lahan kering juga sangat cocok untuk ditanami jagung. Pada musim kemarau, jagung juga akan memberikan hasil yang bagus,” ujarnya.

 

Raksasa Tidur

 

Lahan rawa di Indonesia memang ibarat raksasa yang tengah tertidur. Bahkan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyatakan, jika dikelola dengan baik, maka lahan rawa yang potensinya sebesar 10 juta ha akan mampu memasok kebutuhan pangan penduduk Indonesia, bahkan dunia.

 

Salah satu wilayah yang memiliki lahan rawa cukup luas adalah Kalimantan Selatan. Karena itu pada Hari Pangan se Dunia (HPS) ke-38 yang akan berlangsung Oktober mendatang, pemerintah membuat percontohan pengembangan lahan rawa di lokasi HPS, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

 

"Di sini rencananya kita canangkan membangunkan raksasa tidur. Kita punya rawa lebak dan pasang surut yang begitu luas. Ini akan menjadi basis produksi, dan cita-cita Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia. Itu bukan mustahil. Kita wujudkan dengan pencanangan dari sini,” kata Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Pending Dadih Permana saat mengunjungi lokasi HPS beberapa waktu lalu.

 

Dadih mengakui, lahan rawa selama ini memang kurang produktif. Banyak kendala dalam pemanfaatan lahan pasang surut tersebut. Dari mulai air yang sering naik saat musim hujan hingga kadar keasaman yang tinggi. “Karena itu kita manfaatkan teknologi untuk menjadikannya produktif,” katanya.

 

Optimasi lahan rawa pasang surut tersebut dengan kerja bersama Pemerintah Pusat, TNI, Pemerintah Daerah dan masyarakat. “Lahan yang sebelumnya merupakan rawa kini sudah ditanami, siap tanam, dan terus diperluas. Beberapa alat berat seperti traktor diterjunkan untuk olah lahan,” tambah Dadih.

 

Pengembangan lahan rawa tersebut ungkap Dadih, dilengkapi dengan pembangunan irigasi dan mekanisasi pembangunan irigasi modern. Kementerian Pertanian telah menyiapkan kanal-kanal dan tanggul sepanjang hampir 40 km. Selain itu ada klaster yang dibangun dan dikendalikan dengan tiga pompa besar.

 

Saat kemarau, pompa pada sumber air di sungai akan bekerja untuk memasukkan air ke kanal. Ukuran pompanya mencapai 16 inch. “Hasil modifikasi dari teman-teman di Direktorat Alat dan Mesin Pertanian. Kita latihan tim usaha pelayanan jasa alsintan (UPJA) di sini untuk bisa membuat sendiri. Karena ini rakitan, bukan pabrikan,” papar Dadih.

 

Sementara itu tim Badan Penelitian Rawa (Balitrawa) sudah mempelajari karakteristik air di lokasi ini. Optimalisasi lahan dilakukan berdasarkan karakteristik air yang ada, termasuk pengendalian tingkat keasaman tanah, percepatan pembusukan jerami, hingga pemilihan varietas padi yang cocok untuk rawa dan tahan rendemen. Yul/Ditjen PSP

Editor : Pimpinan Redaksi

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162