Loading...

Ingin Budidaya Petai dan Jengkol, Balitbu Tropika Siapkan Bibit Unggul

23:00 WIB | Sunday, 15-April-2018 | Hortikultura, Komoditi | Penulis : Gesha

 

 

Meski aroma kadang banyak orang yang tidak menyukai, komoditas petai dan jengkol ternyata mempunyai prospek cerah, karena kerap diburu pencinta kuliner nusantara. Sayangnya, untuk pengembangan ketersediaan bibit unggul kedua komoditas sangat terbatas.

 

Selama ini, petani hanya berburu kedua buah eksotis tersebut di hutan. Untuk membantu pengembangan kedua tanaman tersebut, Balai Penelitian Buah Tropika (Balitbu Tropika) melakukan pembibitan dan sudah siap sebar di pertengahan tahun 2018.

 

Seperti kita ketahui, menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN), harga petai dan jengkol seringkali mengalami kenaikan yang signifikan. Jika pada hari biasa, harga hanya sekitar Rp 40 ribu/kg dan petai satu papan sekitar Rp 5 ribu. Tapi meningkatnya permintaan pada hari besar keagamaan harganya bisa melonjak tajam sampai 50%.

 

Meningkatnya permintaan tersebut ternyata tidak diikuti dengan ketersediaan di lapangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi petai tahun 2015 sebanyak  261.063 ton dan jengkol 58.691 ton.

 

Kedua tanaman eksotis ini pun menjadi penyumbang inflasi sebesar 0.01% di tahun 2017 bersama kelompok makanan lainnya. Meski menyumbang inflasi, bobot sumbangan jengkol kecil karena bukan bahan makanan utama. Namun jika dibiarkan terus menerus, harga komoditas tersebut tidak terbendung.

 

Bibit Unggul

 

Selama ini, petai dan jengkol hanya diusahakan petani dari hasil pertanaman di hutan. Karena itu, Kementerian Pertanian berusaha memperbanyak bibit agar petani bisa memanen dan menyediakan untuk pasar.  Balai Penelitian Buah Tropika (Balitbu) Solok, UPT dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura (Puslitbang Hortikultura) diberikan mandat untuk mengembangkan bibit unggul.  

 

"Kalau petai, kita lakukan perbanyakan bibit 20 ribu batang, sedangkan jengkol sebanyak 60 ribu. Kesemuanya akan disebar gratis kepada masyarakat," tutur Kepala Balitbu, Ellina Mansyah ketika ditemui Tabloid Sinar Tani Online, di Solok, Jumat (13/4)

 

Ellina mengungkapkan Sumatera Barat termasuk provinsi yang memiliki kesukaan tersendiri dengan jengkol disamping Jawa Barat, sehingga bibitnya banyak dibutuhkan masyarakat. Proses perbanyakan bibit dimulai sejak tahun 2017 dengan eksplorasi dimana petai dan jengkol yang dikembangkan harus yang terseleksi.

 

"Hingga sekarang hanya satu petai yang sudah dilepas varietasnya yaitu Petai Gobang dan banyak dikembangkan di Jawa Barat. Tapi kan tidak mungkin untuk perbanyakan sekian hanya bertumpu pada satu jenis," tuturnya.

 

Padahal, menurutnya, di daerah juga memiliki bibit unggul petai maupun jengkol. Proses identifikasi sendiri dilakukan dengan mendata varietas genetik lokal yang ada di seluruh Sumatera Barat. Hasilnya, ada 60 jenis yang teridentifikasi dari petai dan jengkol. "Selanjutnya karakterisasi dan terpilih masing-masing dua jenis dari petai dan jengkol yang sedang diproses untuk pelepasan varietas," katanya.

 

Ellina menegaskan, proses perbanyakan bibit tersebut tidak menunggu pelepasan varietas, tapi dilakukan secara paralel. "Kita lakukan perbanyakan, lalu dipilih yang memiliki keunggulan dan dipersiapkan untuk dilepas," tuturnya.

 

Namun demikian, Ellina menegaskan, pihaknya hanya diberikan mandat memperbanyak, sedangkan distribusi bibit bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Ditjen Hortikultura sesuai dengan wilayah pengembangannya.  Jadi, jika kelompok tani ingin mendapatkan bibit jengkol dan petai, bisa mengirim surat ke Dinas Pertanian setempat untuk ditembuskan ke Ditjen Hortikultura agar didisposisi ke Balitbu Tropika.

 

Ellina berpesan, agar wilayah pengembangan dari kedua komoditas ini dilakukan dalam luas kawasan, minimal dua kabupaten sehingga tidak sedikit-sedikit atau dikelola sendiri-sendiri. "Sehingga ke depannya bisa menjadi kawasan pertanian terintegrasi dengan hilirnya," ujarnya.

 

Tabloid Sinar Tani Online berkesempatan melihat langsung perbibitan jengkol dan petai di Kebun Percobaan Sumani (KP Sumani) milik Balitbu Tropika.  Peneliti Balitbu Tropika, Tri Budianti menuturkan, di lahan KP Sumani, ada sekitar 60 ribu bibit hasil perbanyakan tahun 2017 ditambah dengan 25 ribu bibit sebar untuk jengkol. Sementara itu, bibit petai masih ada 10 ribu yang siap didistribusikan. "Tahun lalu sudah ada 20 ribu bibit yang terpelihara dan terdistribusi," tutur Tri. 

 

Data Informasi Publik Balitbu Tropika, permintaan benih sebar untuk jengkol di tahun 2017-2018 mencapai 38.215 batang. Benih itu untuk disebar ke Dinas Pertanian, Kelompok Tani hingga Direktorat Teknis yaitu Direktorat Jenderal Hortikultura (Ditjen Hortikultura) sebanyak 12.500 batang. Gsh

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162