Loading...

Inilah Curhat Peternak Sapi soal Daging Kerbau Impor

16:01 WIB | Wednesday, 07-February-2018 | Suara Tani, Kabar Penas KTNA XV 2017 | Penulis : Julianto

Dewan Pertimbangan Presiden, Mayjen TNI (Purn), Sidarto Danusubroto saat melihat lokasi kandang kampus Aksara Alexis Farm

 

 

Kondisi peternak sapi potong kini tengah dilematis. Dengan skala kepemilikan sapi relatif sedikit, sulit untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Bahkan kini, peternak terhimpit dengan impor daging beku, baik sapi dan kerbau yang boleh masuk pasar tradisional.

 

Husni, peternak sapi potong di Subang menilai, selama ini tingkat kehadiran pemerintah di peternak sapi sangat kurang. Bahkan pemerintah justru membuka impor daging kerbau beku yang berdampak pada usaha peternak sapi potong rakyat.

 

“Perlu ditingkatkan kehadiran pemerintah. Saat ini sangat kurang di peternakan. Padahal kami perlu bimbingan dari pemerintah untuk menahan kedatangan impor daging kerbau sebanyak 150 ribu ton,” katanya ajang curhat di sela-sela Peresmian Program Akademi Sapi Oentoek Rakjat (Aksara) di Kampung Nagrak, Desa Ciangsana, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Rabu (7/2).

 

Husni menilai, kebijakan impor sapi kerbau beku sangat riskan. Bukan sebatas impor daging kerbau, tapi adanya kekuatiran masuknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dari India. “Ini sangat riskan, buat merinding,” ujarnya.

 

Sementara itu Jayus, peternakan sapi asal Tanjung Jabung, Jambi menegaskan, peternak sapi tidak membutuhkan daging beku. Justru yang peternakan perlukan adalah pasokan bibit sapi.  “Yang kami butuhkan adalah bibit sapi. Kami tidak butuh daging beku,”  ujarnya. Namun demikian, Jayus berharap, jika pemerintah memberikan bantuan bibit, maka bukan jenis sapi Bali, karena mudah terserang penyakit.

 

Menurutnya, dengan adanya bantuan bibit sapi, peternak bisa mendapatkan nilai tambah cukup besar. Bahkan saat ini peternak di Tanjung Jabung, Jambi bisa mengelola putaran uang di kelompok peternak hingga Rp 1 miliar. Bahkan pajak yang disetor ke negara mencapai Rp 1 juta/bulan.

 

Putaran uang tersebut ungkap Jayus, bukan hanya dari penjualan sapi, tapi hasil sampingan, seperti kotoran sapi. Di Jambi, peternak mengolah kotoran sapi menjadi pupuk kompos. “Pupuk kompos tersebut sekarang ini dibeli PT. Sinar Mas untuk budidaya pohon akasia,” katanya.

 

Hal yang sama dirasakan Bunbun, peternak sapi dari Tangerang. Selama ini dia melihat, jika pemerintah mengimpor bibit sapi, maka yang diberikan hanyalah perusahaan penggemukan sapi (feedloter). “Bagaimana caranya kita bisa swasembada, kalau bibit tidak sampai ke rakyat. Kami berharap bibit sapi murah, sehingga saat dijual tetap untung,” ujarnya.

 

Sementara itu Direktur. Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Sugiono mengatakan, selama ini peternak sapi potong hampir 98% dilakukan rakyat. Untuk mengurangi kurangi ketergantungan terhadap produk impor, pemerintaha akan mengoptimalkan sumberdaya yang ada.

 

“Perkembangan populasi saat terus meningkat, tapi memang belum bisa mengimbangi permintaan,” katanya. Karena itu menurutnya dengan adanya program Akasara (Akademi Sapi Oentoek Rakjat), bisa memberikan solusi yang baik untuk peternak rakyat.

 

Program Aksara  merupakan hasil kerjasama Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA) dan Universitas Trisakti, Jakarta. Di Kampus tersebut peternak bisa belajar di kelas reguler atau kelas intensif. Pembelajarannya mengenai cara budidaya sapi potong yang baik hingga pemasaran. “Dengan belajar di kampus ini, kami berharap outputnya peternak  menjadi tangguh dan mandiri,” kata penggagas Aksara, Yeka Hendra Fatika. Yul

 


Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162