Loading...

Inilah Inovasi Penyokong Swasembada Jagung

15:00 WIB | Monday, 05-December-2016 | Sorotan | Penulis : Ahmad Soim

Setelah berhasil mendongkel produksi padi, pemerintah kini fokus menggarap komoditi jagung. Berbagai teknologi untuk mendukung swasembada jagung pun diluncurkan. Bukan hanya varietas benih unggul, tapi juga mekanisasi pertaniannya.

 

Seperti diketahui, pemerintah menargetkan produksi ja­gung tahun 2016 sebanyak 21,35 juta ton. Sedangkan produksi tahun 2015 sebanyak 20,67 juta ton pipilan kering atau terdongkrak sebanyak 1,66 juta ton (8,72%) dibandingkan 2014. Peningkatan produksi diperkirakan karena naik­nya luas panen 160,48 ribu ha (4,18%) dan terkereknya produk­tivitas sebesar 2,16 kuintal/ha (4,36%).

Meski produksi cenderung meningkat, tapi dengan kebutuhan jagung sebanyak 23,4 juta ton pipilan kering/tahun, pemerintah masih membuka ijin impor. Konsumsi jagung terbesar untuk pakan 51%, sisanya untuk industri pangan. Dari sisi pasar, potensi jagung terus mengalami peningkatan, seiring berkembangnya industri peternakan.

Untuk mendukung percepatan swasembada produk strategis tersebut, Badan Litbang Pertanian telah banyak memperkenalkan inovasi teknologi. Dalam kegiatan mekanisasi pertanian, Balai Be­sar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) telah mere­kayasa berbagai alat mesin pertanian (Alsintan).

Peneliti dan Perekayasa BBP Mektan, Astu Unadi mengatakan, teknologi mekanisasi untuk pro­gram swasembada jagung antara lain mesin olah tanah, alat tanam, mesin panen, pemipil jagung dan pengering jagung. Alsintan tersebut sudah tersedia dipasaran, tapi Astu mengakui, petani masih terbatas menggunakannya.

 

Alsintan Multifungsi

Paling baru, BBP Mektan te­lah memperkenalkan tiga alat mesin pertanian (Alsintan) yang multifungsi. Pertama, mesin panen multi komoditas jagung dan padi dengan kapasitas 3 jam/ha. Kedua, olah tanah amphibi kapasitas 3.5 jam/ha yang dapat digunakan secara bersamaan setelah jagung dipanen. Ketiga, mesin penanam jagung kapasitas 8 jam/ha. “Ketiga mesin tersebut dapat dioperasikan secara bersamaan sehingga mem­percepat waktu budidaya dan meningkatkan indeks pertanaman jagung,” kata Astu.

Mesin pemanen multi komo­ditas (multicrops combine harvester), untuk memanen jagung atau padi, sekaligus memasukkan hasil panen ke dalam karung dalam satu operasi. Mesin ini menggunakan roda krepyak dari karet yang bisa di lahan agak basah maupun lahan kering. Penggeraknya, motor diesel 41 PK, dilengkapi dengan rangkaian pisau potong dan perontok yang dapat disetel untuk merontokkan jagung atau padi.

Sedangkan mesin pengolah tanah amphibi menggunakan ba­jak rotari dengan roda krepyak dari karet. Mesin ini digunakan untuk lahan tergenang/lahan ke­ring dalam sekali olah sehingga menghemat waktu, bahan bakar dan tenaga kerja.

Fungsinya untuk mengolah ta­nah sekaligus mencacah sisa jerami padi/jagung dan gulma serta mencampur dengan tanah. Dengan demikian meningkatkan kandungan bahan organik tanah. Mesin pengolah tanah amphibi tersebut menggunakan motor diesel 60 PK, bajak rotari dan pisau pencacah biomassa untuk pengolahan tanah yang sekaligus mencacah jerami dan sisa tanam­an. Mesin ini juga dilengkapi penyemprot dekomposer guna mem­percepat proses dekomposisi biomassa.

Adapun mesin penanam biji-bijian, ditarik traktor roda dua yang dapat digunakan menanam jagung atau kedelai pada lahan kering dengan jumlah baris tanaman dua baris untuk jagung dan tiga baris untuk kedelai. Mesin ini dirancang untuk mampu digunakan pada tanah yang bergelombang (tidak rata). Kapasitas mesin ini adalah 8 jam/ha.

“Ketiga prototype alsintan di­ran­cang untuk mendukung program bantuan alsintan pada tahun yang akan datang. Bahkan kini sudah diminati beberapa in­dustri alsintan dalam negeri untuk pabrikasi dan penggandaannya me­lalui kerjasama lisensi,” kata Astu Unadi.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Ahmad Soim

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162