Loading...

Inovasi Teknologi Gaet Pemuda Terjun ke Sawah

16:29 WIB | Thursday, 24-August-2017 | Inovasi Teknologi, Teknologi | Penulis : Clara Agustin

Pertanian dengan cara konvensional (tradisional) sudah ketinggalan zaman. Jika pertanian Indonesia masih mengandalkan cara-cara tradisional tersebut, maka swasembada akan sulit tercapai.

 

“Pertanian Indonesia saya tekankan untuk mengarah kepada inovasi teknologi, terutama dalam hal mekanisasi. Makanya sekarang Indonesia dapat mencapai swasembada,” kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat acara Launching Paket Lengkap Mekanisasi Hortikultura di BB Mektan Serpong, Banten, Kamis (24/8).

 

Dengan mekanisasi, Amran mengatakan dapat mempersingkat waktu dan hemat biaya. Misalnya, jika dengan cara konvensional untuk panen 1 ha memerlukan waktu 25 hari, maka dengan mekanisasi akan mempersingkat waktu  hanya satu hari. “Dengan mekanisasi dalam setahun dapat tanam 3-4 kali,” ujarnya.

 

Dalam 43 tahun Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) telah menghasilkan inovasi alsintan untuk perbenihan dan hortikultura secara terintegrasi. Dari mulai dari penyiapan lahan, pengguludan, pemasang mulsa, persemaian benih (Smart Green House), pemeliharaan benih, penanam, pemanen, pengawetan dan penyimpanan.

 

Kepala Badan Litbang Pertanian, M. Syakir mengatakan, dari analisis usahatani dengan dukungan mekanisasi modern dapat menekan biaya untuk usaha tani bawang merah sebesar Rp 33.898.000/ha atau efisiensi 45%. Adapun usaha tani cabai sebesar Rp 28.628.000/ha (efisiensi 38,0%) dibandingkan secara manual.

 

Unit alsintan automatisasi perbenihan persemaian TSS, mampu menyiapkan benih sesuai dalam tray secara otomatis sebanyak 720 tray/jam atau 75.600 benih umbi mini/jam atau setara dengan 604.800 benih umbi mini/hari bila bekerja selama 8 jam/hari.  “Unit alsintan untuk prosesing TSS tersebut mampu menyiapkan benih mini untuk sekitar 5-6 ha/hari,” tambah Syakir.

 

Khusus untuk rumah tanam (green house) untuk pemeliharaan dan persemaian benih, sudah sangat terkendali secara otomatis semua parameter lingkungan mikronya (temperature, kelembaban, kadar CO2/O2 dan ventilasi). Rumah tanam pintar ini (Smart Green House) dapat dikendalikan melalui smartphone.

 

“Semua prototipe amekanisasi untuk hortikultura diharapkan diperbanyak oleh industri alsintan dalam negeri melalui kerjasama lisensi. Sehingga petani dapat segera menggunakannya,” ungkap Syakir.

 

Agro Inovator Award

 

Amran menegaskan, dengan mekanisasi dapat menarik kaum muda bekerja di sektor pertanian. Karenanya upaya melibatkan pemuda untuk mau terjun berusaha tani, pemerintah melakukan berbagai cara. Salah satunya, bimbingan teknis untuk Pemuda Agro Inovator.

 

“Efek mekanisasi ini luar biasa, dapat mengurangi angka kemiskinan. Di pedesaan yang mata pencahariannya sebagian besar petani, angka kemiskinanya turun 2%. Ini terjadi karena inovasi pertanian,” katanya.

 

Pada kesempatan itu Amran Sulaiman juga memberikan anugerah Agro Inovator Award 2017 kepada para pemuda inovator dan peneliti. Salah seorang yang mendapat  anugerah Agro Inovasi Balingbangtan tahun 2017 adalah Rikval Fachruri, seorang pemuda asal Banua (Kalimanatan selatan).

 

Rikval meraih anugerah ini karena berhasil membalikan keadaan dengan mengoptimalkan dan membangunkan lahan tidur yang selama ini belum tergarap. Lahan yang sebelumnya merupakan bekas tambang batu bara, kini telah disulap . menjadi lahan jagung yang keuntungan ternyata jauh lebih besar dibandingkan batu bara. 

 

"Sejak bulan Februari 2017 hingga saat ini sudah 3 ribu ha lahan tidur yang ditanami jagung dari total 30 ribu ha di tahun 2017. Kami optimis bisa realisisan target ini, karena dukungan dari pemerintah daerah dan para petani maupun generasi muda lainnya turut berpartisipasi," kata Rikval.

 

Menurut Koordinator Wilayah Program Gerakan Pemuda Tani Indoneisa Kalimantan Selatan (Korwil Gempita Kalsel) ini, pemanfaatan lahan tidur untuk ditanami komoditas pertanian khususnya jagung lebih menguntungkan dibandingkan minerba yakni lebih tinggi 5- 6 kali.

 

Hitungan Rikval, keuntungan batu bara hanya Rp 400 ribu-600 ribu/ton dengan modal yang besar. Sementara usaha tani jagung hasilnya bisa mencapai Rp 3 juta/ton. “Pasar jagung pun aksesnya sudah tersedia dan rantai pasoknya tidak panjang, sehingga petani mendapatkan harga jual yang tinggi dan keuntungan juga jelas lebih tinggi," ungkapnya. Cla

 

 

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162