Loading...

Insentif Pemda Pelindung Lahan Sawah

09:29 WIB | Tuesday, 06-December-2016 | Editorial, Editorial | Penulis : Ahmad Soim

 

Laju konversi sawah, dinilai Menteri Agraria dan Tata Ruang, Sofyan Djalil sangat mengkhawatirkan. Pemerintah merasa tidak lagi cukup dengan adanya UU No. 41/2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pa­ngan Berkelanjutan.

 

 

Dalam UU No. 41 Tahun 2009 tersebut ditetapkan adanya lahan pertanian abadi. Pengalihan lahan sawah di area yang dilindungi pemerintah daerah bisa dilakukan tetapi harus menggantinya dengan sawah baru di tempat lain. Namun laju konversi lahan pertanian subur pun, terutama sawah tetap terjadi.

 

Gagasan Sofyan Djalil mengembangkan sistem insentif dan disinsentif untuk mencegah laju konversi lahan sangatlah ditunggu pelaksanaannya. Misalnya, pemerintah bisa saja memberikan insentif dana alokasi khusus (DAK) kepada pemerintah daerah yang membangun kawasan industri, tetapi tidak menyentuh kawasan pangan dan persawahan.

 

Dengan metode tersebut, bisa diharapkan kawasan industri tetap akan berkembang tanpa mengkon­versi lahan sawah. Fakta saat ini, tidak sedikit pembangunan kawasan industri yang mengorbankan persawahan, terutama yang letaknya di tepi jalan raya.

 

Ada cara lain untuk mencegah terjadinya konversi lahan sawah padi. Di  Jepang misalnya, petani padi diberikan subsidi yang besar agar sawahnya tidak dikonversi. Subsidinya di antaranya berupa pembelian harga beras yang sangat tinggi.

 

Pijakan hukum untuk mengendalikan alih fungsi lahan demi memenuhi kebutuhan pangan pokok masyarakat yang populasinya kian bertambah sudah amat jelas. Dalam beleid UU tersebut, pemerintah berkomitmen menjaga lahan pangan dan menambah luas lahan pangan yang mencakup proses inventarisasi, intensifikasi, ekstensifikasi, pengembangan lahan, hingga alih fungsi tanah terlantar yang sebenarnya dikonsesikan untuk kegiatan non pertanian menjadi lahan pertanian berkelanjutan.

 

Luas baku sawah Indonesia yaitu 8,1 juta ha, laju alih fungsi lahan tersebut cukup tinggi, yakni mencapai 100.000 ha per tahun. Meski pemerintah melakukan program cetak sawah, tetapi luasnya kerap tidak menutupi luasan yang telah dikonversi. Baru pada tahun 2016 ini, Kementan memprogramkan mampu mencetak sawah lebih dari 100 ribu ha.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162