Loading...

Mentan: Insya Allah, Tidak Ada Paceklik

13:21 WIB | Friday, 29-September-2017 | Mentan Menyapa, Editorial | Penulis : Kontributor

Kami akan bekerja keras mengejar target lumbung pangan dunia di 2045, melalui swasembada termasuk didalamnya dengan menghentikan impor sejumlah komoditas pangan secara bertahap. Tahun ini beras, bawang, cabai, tidak impor. Mudah-mudahan jagung paling lambat 2018. Harus selesai satu persatu.

 

Untuk dapat mengakselerasi swasembada, Kementerian Pertanian telah mengubah pola tanam untuk menghindari masa paceklik. Salah satunya adalah dengan rainwater harvesting system atau menampung air hujan yang ditempatkan di embung. Apabila langkah tersebut dapat berjalan lancar, maka dapat mempercepat waktu panen, tanam, dan mempercepat waktu olah. Jadi sekarang tidak ada paceklik, kita panen-tanam, panen-tanam.

 

Kami berusaha melakukan terobosan baru untuk mengatasi ancaman musim paceklik terhadap produksi padi sejak Juli 2016. Karena mengingat produksi padi bersifat musiman setiap tahun, sehingga dikenal musim paceklik dan musim panen raya. Selama puluhan tahun terjadi paceklik pada bulan Oktober hingga Januari akibat dari luas tanam padi bulan Juli-Oktober rata berkisar 485 ribu hingga 796 ribu hektar. Bahkan pada periode November-Januari pemerintah harus impor beras akibat stock beras berkurang.

 

Hal ini dilakukan dengan cara menanam padi pada lahan tadah hujan dan lahan kering melalui pemanfaatan jaringan irigasi, menggerakkan pompa yang menganggur, membangun embung, long storage, dam-parit, dan sumur air tanah dangkal. Hasilnya Indek Pertanaman (IP) pada Juli-September 2016 meningkat dari sekali tanam per tahun menjadi dua kali tanam dan luas tanam.

 

Solusi mengatasi paceklik itu tidak hanya untuk pertanaman padi, namun juga diterapkan pada jagung, cabai dan bawang merah dengan menanam pada saat off-season sehingga tidak akan terjadi shortage produksi pada setiap bulanannya.

 

Gambaran keseluruhannya, untuk jangka pendek dengan membuat sumur pantek dan pompanisasi air sungai di wilayah potensial, penyediaan benih unggul tahan kekeringan, pongaturan pola tanam, minimalisir risiko kekeringan, penyediaan asuransi usaha tani dan menggenjot pertanaman di lahan rawa, lebak, pasang surut. Sedangkan jangka panjang melalui program perbaikan irigasi, bantuan alsintan, pembangunan embung, pengembangan tata air mikro di lahan rawa dan pasang-surut, dan bantuan benih tahan kekeringan untuk mengantisipasi potensi kekeringan dan menghindari penurunan hasil produksi petani.

 

Untuk menjamin ketersediaan air irigasi, Kementerian Pertanian bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat terkait pembangunan bendungan, DAM, jaringan irigasi primer dan sekunder serta melakukan normalisasi sungai, serta pembangunan irigasi tersier tiga juta hektar.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162