Loading...

Irigasi Tetes, Air Efisien Hasil Tebu Maksimal

15:44 WIB | Wednesday, 25-April-2018 | Iptek, Teknologi | Penulis : Gesha

Meskipun kini pemerintah tengah melakukan upaya pemanenan air melalui embung, upaya efisiensi air juga dilakukan khususnya di wilayah suboptimal. Salah satunya dengan menerapkan irigasi tetes. Penerapannya sendiri bisa dilakukan pada pertanaman tebu.

 

Pada pertanian skala besar, irigasi tetes cocok untuk sistem pertanian berjajar, untuk buah-buahan, juga sistem irigasi di dalam greenhouse. Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) bahkan menerapkannya pada pertanaman tebu di lahan sub optimal untuk bisa menghasilkan tebu yang berkualitas.

 

Kepala Bidang Kerjasama, Pendayagunaan Perekayasaan dan Pengujian BBP Mektan, Agung Prabowo menambahkan bahwa model pengairan pada pertanaman tebu yang umum digunakan selama ini adalah irigasi permukaan, salah satunya dengan memompa air embung kemudian dialirkan melalui pipanisasi dan lahan kemudian digenangi. Model pengairan lainnya dengan menggunakan big gun sprinkler. Perlu adanya irigasi yang efisien, efektif dan terkendali, salah satu model irigasi yang bisa digunakan adalah irigasi tetes (drip irrigation). "Jika menggunakan irigasi tetes, pengairan dilakukan di sekitar perakaran sehingga air yang diteteskan hanyalah sebatas kebutuhan air tanaman saja," ungkapnya.

 

Irigasi tetes menggunakan air yang langsung mengalir ke tanaman secara terus menerus sesuai kebutuhan. Prinsip dasar irigasi tetes adalah memompa air dan mengalirkannya ke tanaman dengan perantaraan pipa-pipa yang dibocorkan di tiap 15 cm (tergantung jarak tanam). Sistem tekanan air rendah ini ‘menyampaikan’ air secara lambat dan akurat pada akar-akar tanaman, tetes demi tetes. Keuntungan sistem ini, di antaranya sedikit menggunakan air, air tidak terbuang percuma, dan penguapan bisa diminimalisir.

 

Perekayasa alsintan dari BBP Mektan, Joko Wiyono menuturkan BBP Mektan melakukan modifikasi sistem irigasi tetes untuk bisa mengairi pertanaman tebu. Dengan menggunakan dripline sejauh 100 meter, tetesan air yang dihasilkan bisa seragam. “Dripline ditimbun di kedalaman 15-17 cm dan bagian ujung disambungkan dengan pipa utama, air kemudian dibuka dengan tekanan 2 bar sehingga dripline yang tadinya pipih akan menyerupai pipa yang mengeluarkan air dalam bentuk tetes,” tutur Joko.

 

Perlahan namun pasti, tetesan air dari dripline akan menetes dan menjadi sumber air dari perakaran tebu. Bahkan petani tidak perlu lagi melakukan pemupukan di permukaan karena pengairan dari dripline bisa dicampurkan dengan pupuk cair sehingga bisa diserap akar seiring penyerapan air. 

 

Mengenai sumber air, pengguna bisa menggunakan air embung maupun air tanah yang dipompa kemudian disalurkan terlebih dahulu pada filter untuk kemudian masuk kedalam pipa utama dan dripline. "Untuk perawatannya, cukup lakukan pengecekan berkala pada filter agar tidak ada yang menyumbat dan air masih bisa mengalir," tuturnya.

 

Dripline ini lebih optimal digunakan dalam kondisi lahan datar tetapi bisa juga untuk lahan dengan kemiringan kurang dari 45 derajat. "Sebenarnya bisa, hanya saja konsumsi tenaga pompa untuk mengalirkan airnya harus lebih besar sehingga tidak efisien lagi," tutur Joko. Penggunaan dripline ini sendiri bisa digunakan dalam 5 kali pertanaman tebu sebelum akhirnya dibongkar ratun. Sehingga bisa efisien dalam penggunaan air namun bisa tetap berproduksi tinggi dengan kualitas terbaik. (gsh/bbpmektan)

Editor : Pimpinan Redaksi

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162