Loading...

Irwan Ibrahim, Pengembang Socolatte dari Aceh

11:45 WIB | Thursday, 01-December-2016 | Olahan Pasar | Penulis : Ahmad Soim

 

 

Petani kakao di Aceh, Irwan Ibrahim pengembang industri olahan cokelat di Aceh, baru baru ini mendapat kesempatan ke istana negara (28/11) untuk menerima penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara 2016 dari Presiden Jokowi atas usahanya merintis pengembangan industri pangan olahan dari biji kakao.

 

 

 

Socolatte merupakan merk dagang (brand) produk olahan berbahan baku biji kakao asli Aceh yang diproduksi oleh kelompok yang diketuai Irwan Ibrahim. Bahan baku dipetik dari hasil budidaya petani Aceh yang selalu tersedia jumlahnya sepanjang tahun.

 

Industri cokelat olahan pertama di Aceh ini berada di Jalan Banda Aceh Medan, Km 138, Desa Baroh Musa, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Socolatte memproduksi bermacam-macam jenis olahan cokelat mulai dari chocolate bar, Cocoa butter, Cocoa powder, dodol cokelat dan Chocolate milk.

 

 

 

Berawal sebagai penyuluh swadaya dan petani kakao yang merupakan komoditi unggulan di Kabupaten Pidie, Irwan Ibrahim mengembangkan usaha dengan membangun industri pengolahan kakao yang dirintis pada tahun 2003. Industri pengolahan cokelat ini merupakan industri pionir di Aceh, meskipun banyak memiliki lahan kakao namun selama ini biji kakao yang diproduksi petani dijual langsung dalam bentuk biji dan sebagian diekspor.

 

Untuk memberikan nilai tambah bagi petani kakao di daerahnya, Irwan Ibrahim mulai memikirkan untuk mengolah biji kakao menjadi berbagai produk olahan yang diminati masyarakat sehingga dapat meningkatkan pendapatannya. Industri pengolahan cokelatnya diawali dengan dibantu 5 orang karyawan dan modal awal sebesar Rp. 35.000.000,- serta peralatan pengolahan yang sederhana bantuan dari Puslit Perkebunan.

 

 

 

Diawal produksinya beliau menghadapi berbagai tantangan diantaranya melawan kultur budaya di Aceh sebagai penikmat kopi sehingga usahanya banyak dicibir masyarakat sekitarnya. Namun cibiran itu dianggap sebagai tantangan dan Irwan Ibrahim terus berusaha mengenalkan berbagai olahan cokelat tanpa kenal lelah dengan cara mempromosikan mengenai manfaat cokelat bagi kesehatan. Walaupun kondisi masyarakat yang masih sangat rendah terhadap produk olahan cokelat, usaha nya banyak menghadapi tantangan terutama dari sisi pemasaran produk, bahkan 4 bulan pertama usahanya tidak tahu harus menjual kemana sehingga berdampak tidak dapat mensejahterakan karyawannya.

 

 

 

Namun demikian, Irwan sebagai ketua kelompok tidak berputus asa dan terus bekerja keras dengan membangun jaringan pemasaran, karena ia yakin usaha produk olahan cokelat mempunyai prospek yang baik dan mampu mensejahterakan petani cokelat. Bencana tsunami yang menimpa Aceh pada tahun 2004 membawa hikmah bagi Irwan Ibrahim, dengan masuknya berbagai bantuan permodalan dan pemberdayaan dari dalam dan luar negeri ke tanah Aceh.Setelah mengalami jatuh bangun dalam memasarkan produk nya, Industri pengolahan Socolatte mendapat bantuan dari OISCA Jepang pada tahun 2004berupa modal sebesar Rp. 65.000.000,- dan peralatan pengolahan dan processing  Dengan bantuan teknis tenaga ahli pengolahan kakao dari Jepang, produk Socolatte mulai dikenal dan dipasarkan mencakup seluruh Provinsi Aceh bahkan sampai ke Sumatera Utara.

 

 

 

Pabrik pengolahan cokelat yang dibangunnya memiliki ruang penyimpanan bahan mentah, ruang pengolahan dan ruang pengemasan. Selain itu juga terdapat kedai untuk memasarkan berbagai produk olahan cokelat dengan menyajikan menu seperti pancake cokelat, brownis cokelat dan minuman cokelat. Kedai cokelat ini memiliki lokasi yang strategi di pinggir jalan utama dan juga memiliki desain nyaman dan menarik untuk dikunjungi atau sekedar menghabiskan waktu dengan ditemani secangkir minuman dan olahan cokelat lainnya. 

 

 

 

Saat ini industri olahan cokelat Socolatte telah memiliki 30 orang karyawan dan memiliki omzet Rp. 5.000.000,-/hari. Untuk mengembangkan badan usahanya telah dibentuk Koperasi dengan nama “Rimbun”. Bahan baku biji kakao yang diproduksi sebanyak 2 ton/bulan. Ketersediaan bahan baku dipenuhi dari petani kakao kelompoknya atau pun petani kakao di sekitar Kabupaten Pidie Jaya. Produksi olahan kakao makin bertambah dengan semakin dikenalnya produk Socolatte di Kabupaten Pidie Jaya dan sekitarnya.Kedepan usaha cokelat yang dirintis oleh Irwan Ibrahim diharapkan dapat terus tumbuh dan menjamur di seluruh wilayah Aceh karena peluang ini sangat menjanjikan untuk menyerap hasil kakao petani di Kabupaten Pidie Jaya sehingga cokelat asal Aceh ini dapat mendunia. Woro BKP/Som

 

 

Editor : Ahmad Soim

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162