Loading...

Jengkol dan Petai dapat Dana APBN

13:23 WIB | Thursday, 31-August-2017 | Hortikultura, Komoditi | Penulis : Gesha

Di tengah upaya meningkatkan produksi tanaman hortikultura seperti cabai, bawang merah dan bawang putih, terselip juga rencana pengembangan tanaman sayuran lain yang selama ini terpinggirkan yaitu jengkol dan petai. 

 

Rencana itu terlihat dari matriks Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-Perubahan (APBN-P). Kedua tanaman sayur tersebut mendapatkan porsi berturut- turut Rp 6.5 milyar dan Rp 8 milyar.

 

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto yang dihubungi tabloidsinartani.com membenarkan rencana tersebut. Anggaran tersebut untuk pengembangan kawasan jengkol dan petai di Indonesia. 

 

"Pengembangannya di seluruh Indonesia. Petai misalnya di Jabar, Jateng, Riau, Kalbar dan Lampung. Total untuk petai ada di 15 kabupaten/kota. Sedangkan jengkol di 17 kabupaten/kota," paparnya.

 

Adapun luasan kawasan yang menjadi target pengembangan kawasan jengkol ada 867 hektar (ha) dan kawasan petai ada 1.067 ha. Semuanya tersebar di seluruh Indonesia. 

 

Prihasto mengungkapkan, alasan dimasuknya kedua komoditas unik ini dalam strategi pengembangan hortikultura adalah karena peminat keduanya yang sangat banyak di Indonesia. Namun, selalu berfluktuasi setiap memasuki hari raya. Bahkan terkadang, tidak selalu tersedia. 

 

Mungkin, masyarakat juga masih ingat bagaimana harga jengkol yang meroket bahkan mengalahkan harga daging sapi. Meski tidak dikonsumsi seluruh masyarakat Indonesia, meroketnya harga cukup membuat kelimpungan para pecinta jengkol dan petai.

 

Kedua tanaman ini pun hanya bisa panen setahun sekali, sehingga perlu adanya manajemen pertanaman yang baik agar bisa tersedia sepanjang tahun dan harga menjadi terjangkau konsumen.

 

Benih Lokal

 

Pengembangan kawasan jengkol dan petai ini pastinya membutuhkan benih/bibit yang tak sedikit. Prihasto menuturkan, pengembangan kedua komoditas tersebut akan menggunakan benih lokal.  "Penangkarnya memang belum ada. Karena memang belum ada (industri) perbenihan jengkol dan petai itu sendiri," tuturnya. 

 

Sementara itu Direktur Perbenihan Hortikultura, Sukarman yang dihubungi tabloidsinartani.com mengungkapkan, pihaknya tengah melakukan pengadaan benih pohon jengkol dan petai masing-masing adalah 800 ribu batang di tahun 2017 dan 800 ribu batang di tahun 2018.

 

"Kita kerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) di beberapa daerah untuk pengadaan benih jengkol dan petai. Keduanya menggunakan varietas lokal," ungkapnya.

 

Khusus untuk jengkol, benihnya akan dipersiapkan Balai Penelitian Buah (Balitbu) sebanyak 200 ribu batang, BPTP Sumatera Utara 100 ribu batang, BPTP Kalimantan Selatan 100 ribu batang, BPTP Jawa Barat 100 ribu batang, BPTP Bengkulu 100 ribu batang, BPTP Banten 100 ribu batang dan BPTP Sumatera Barat 100 ribu batang.

 

Sedangkan untuk petai, akan dipersiapkan oleh Balitbu sebanyak 425 ribu batang, BPTP Sumatera Barat 125 ribu, BPTP Jawa Barat 125 ribu dan BPTP Banten 125 ribu. "Produksi benih sendiri dilakukan secara simultan yaitu benih yang diproduksi 2017 ini akan di distribusikan tahun 2018 mendatang, sedangkan produksi benih 2018 untuk distribusi tahun  2019 nanti," ungkapnya. Gsh 

 

 

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162