Loading...

Kedelai, Siap Menerobos Jalur Swasembada

10:21 WIB | Tuesday, 03-January-2017 | Komoditi, Pangan | Penulis : Tiara Dianing Tyas

Kedelai, selama ini menjadi komoditi nomor tiga setelah padi dan jagung yang menjadi target pemerintah untuk mencapai swasembada pangan. Di tengah peningkatan produksinya yang relatif masih merangkak, namun bahan baku tahu tempe itu siap menerobos swasembada.

 

Jika melihat perkembangannya, memang harus diakui peningkatan produksi kedelai tak secepat dua komoditi pangan lainnya, bahkan cenderung fluktuatif. Catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2011 produksinya  mencapai 851.286 ton terus menurun pada tahun 2012 menjadi sebanyak 843.153 ton, turun lagi menjadi 779.992 ton pada tahun 2013.

 

Namun pada tahun 2014 kembali naik menjadi 954.997 ton, naik lagi pada tahun 2015 sebanyak 963.183 ton. Bagaimana tahun 2016? BPS memprediksi, produksinya turun sebanyak 77.610 ton atau hanya 885.575 ton. Penyebabnya, berkurangnya luas panen sebesar 26.120 ha dari tahun 2015 yang mencapai 614.095 ha. Produktivitas tanaman juga menurun. Jika tahun 2015 mencapai 15,68 ton/ha, maka tahun 2016 hanya 15,06.

 

Jika dilihat dari rata-rata produksi kedelai nasional periode 2014-2016 meningkat rata-rata 13,31% dibanding periode 2011-2013. Produktivitas kedelai nasional periode 2014-2016 meningkat rata-rata 8,34% dibanding periode 2011-2013. Luas panen kedelai nasional periode 2014-2016 meningkat rata-rata 4,43% dibanding periode 2011-2013.

 

Direktur Aneka Kacang dan Umbi, Ditjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Rita Mezu mengakui, ada beberapa kendala peningkatan produksi kedelai 2016. Di antaranya, iklim basah (La-Nina) yang kurang kondusif untuk pertanaman kedelai. Selain itu, banyak tanaman yang puso terkena banjir dan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

 

"Harga kedelai ditingkat petani relatif rendah membuat petani kurang tertarik menanam kedelai. Kebijakan acuan harga batas bawah pembelian kedelai sesuai Permendag Nomor 63 Tahun 2016 sebesar Rp 8.500/kg juga belum berjalan efektif di lapangan,” tuturnya kepada Sinar Tani.

 

Hulu hingga Hilir

 

Menurut Rita, untuk mendongkrak produksi kedelai sebenarnya pemerintah telah berupaya menyiapkan ketersediaan lahan yang sesuai untuk pengembangan kedelai seluas 3.432.864 ha. Lahan tersebut tersebar di Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Papua. “Kami juga mulai fokus pengembangan kedelai di lahan kering atau sawah tadah hujan dan pengembangan kedelai di lahan pasang surut,” katanya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162