Loading...

Kelapa Sawit

10:10 WIB | Tuesday, 11-July-2017 | Editorial, Mentan Menyapa | Penulis : Kontributor

Alhamdulillah, dari segi pendapatan Negara, devisa ekspor yang dihasilkan dari produk kelapa sawit tahun 2016 mencapai US$ 14,36 milyar atau sekitar Rp. 193 trilyun atau lebih dari 10 % dari APBN Indonesia. Dengan produksi tahun 2016 sebesar 33,2 juta ton CPO, Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia dan bersama-sama dengan Malaysia menguasai sekitar 85% produksi minyak kelapa sawit dunia.

 

Perkebunan kelapa sawit yang luasannya saat ini 11,9 juta ha, sekitar 40% diusahakan oleh perkebunan rakyat. Pengusahaan kelapa sawit saat ini menyerap lebih dari 5,5 juta tenaga kerja di sektor on farm. Penyerapan tenaga kerja  ini akan lebih besar lagi kalau termasuk tenaga kerja di sektor off farm dan jasa pada agribisnis kelapa sawit.

 

Pengembangan kelapa sawit ke depan akan lebih difokuskan kepada upaya peningkatan produktivitas lahan dan daya saing. Dari hasil penelitian telah dapat ditingkatkan produktivitas kelapa sawit dari semula 3,5 ton CPO/ha menjadi 6 ton CPO/ha bahkan lebih.

 

Upaya peningkatan produktivitas tidak hanya terhadap komoditas, juga akan terus mendorong optimasi pemanfaatan hijauan dan limbah kelapa sawit dengan integrasi ternak sapi, serta pengembangan tanaman pangan khususnya pada periode tanaman belum menghasilkan (TBM). Dengan demikian, pengembangan kelapa sawit ke depan tidak hanya menghasilkan minyak kelapa sawit, sekaligus juga mendukung upaya swasembada pangan dan daging.

 

Pengembangan kelapa sawit di Indonesia tidak hanya pengembangan komoditi, namun lebih luas lagi sebagai pembangunan wilayah. Dengan demikian dalam setiap sentra pengembangan kelapa sawit mempunyai efek yang sangat luas, tidak hanya terhadap petani dan pekerja, namun juga berkembang sektor jasa, infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Pendapatan dari devisa ekspor produk kelapa sawit saat ini sudah melebihi ekspor minyak dan gas bumi. Pendapatan Negara ini tentunya sangat penting untuk membiayai pembangunan di Indonesia, khususnya untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 

Kementerian Pertanian untuk itu mengajak segenap pemangku kepentingan kelapa sawit untuk bersatu untuk mendukung berbagai kebijakan pengelolaan kelapa sawit berkelanjutan, termasuk dalam hal ini adalah terkait antisipasi perubahan iklim yang telah kami siapkan, seperti pembukaan lahan tanpa bakar, penerapan GAP/BMP dan praktek-praktek budidaya ramah lingkungan, pemanfaatan agensia hayati dalam pengendalian OPT, pembentukan brigade pengendali kebakaran kebun termasuk pemanfaatan limbah cair dan tandan kosong sebagai pupuk begitu pula pengelolaannya.

 

Terkait dengan isu penggantian kelapa sawit dengan tanaman bunga matahari juga emisi, perlu diketahui kelapa sawit emisinya sangat rendah. Dibandingkan dengan tanaman semusim yang setiap panen harus dibongkar, sehingga akan meningkatkan emisi saat lahan terbuka. Berbeda dengan kelapa sawit yang berbentuk pohon, tajuk daun tanaman akan menutupi permukaan tanah sepanjang 25-30 tahun. Dari sisi produktivitas, produktivitas kelapa sawit enam sampai tujuh kali bunga matahari dan kedelai, kelapa sawit otomatis membutuhkan lahan lebih kecil ketimbang dua komoditas penghasil minyak nabati itu. Kelapa sawit dikembangkan di lahan-lahan yang tidak produktif seperti bekas penebangan liar, areal ilalang, atau lahan bertutupan rendah lainnya. Karena itulah, kelapa sawit sebagai jalan keluar di tengah kebutuhan global akan minyak nabati. Sawit jauh lebih produktif dan sangat efisien dalam penggunaan lahan dibandingkan tanaman lain.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162