Loading...

Kenali Penyakit Tungro dan Trik Cara Pencegahan

09:10 WIB | Friday, 22-September-2017 | Non Komoditi, Tips & Santai | Penulis : Gesha

Penyakit tungro sudah menjadi bagian dari petani padi di Indonesia. Beberapa provinsi di Indonesia merupakan daerah endemik tungro, mulai dari Sulawesi Selatan (Sidrap, Wajo, Bone dan Pinrang), Sulawesi Barat (Polewali Mandar), Kalimantan Selatan, NTB, dan Sulawesi Utara. Bahkan kini penyakit yang berasal dari wereng hijau ini penyebaran telah merata di 23 provinsi.

 

Peneliti dan perekayasa genetik tanaman tahan tungro dari Loka Penelitian Penyakit Tungro Balitbang Pertanian, Ahmad Mulyadi mengungkapkan, virus tungro tidak menetap di tanah, tapi di tanaman rerumputan. Karena itu bisa berpindah dari lokasi pertanaman yang satu ke lokasi lainnya.

 

Tanaman yang ada gejala penyakit tungro bisa dilihat saat masa vegetatif (4-6 minggu setelah tanam). Hal ini karena penularan penyakit tungro yang dapat terjadi sejak dipersemaian. Gejalanya, daun tanaman muda berwarna kuning, kerdil dan daun melintir, anakan berkurang. “Pada hamparan tampak pertumbuhan padi bergelombang dengan spot-spot gejala menguning,” katanya.

 

Karena virus tungro terdiri dari virus RNA dan DNA, sehingga terkadang dalam deteksi molekuler susah terdeteksi. Sifat inilah yang menjadikan virus tungro tidak bisa hilang secara sepenuhnya di wilayah yang sudah endemik. Waktu ledakan virus tungro pun sebenarnya berpola sesuai dengan agroekosistem dan lokasi pertanaman.

 

Mulyadi mencontohkan, di Sidrap akhir Februari-Maret dan akhir Juli-awal Agustus lalu terjadi populasi wereng hijau yang tinggi. Karena itu jika petani bertanam saat itu, maka akan terkena tungro. “Jadi biasanya saat tanam ketiga yang terkena tungro,” katanya.

 

Cegah Tungro

 

Untuk mencegah serangan penyakit tungro ini, menurut dia, perlu adanya penyesuaian tanam varietas tahan tungro saat populasi wereng hijau sedang tinggi. Mulyadi menyarankan, untuk mengatur waktu tanam, sehingga saat puncak populasi tungro, tanaman sudah memasuki fase generatif atau 45 hari atau lebih masa tanam. Sebab, serangan yang terjadi setelah masuk fase tersebut tidak menimbulkan kerusakan yang berarti.

 

“Atur waktu tanam agar saat terjadi puncak kerapatan populasi dan intensitas tungro, tanaman telah berumur lebih dari 45 hari setelah tanam. Semakin muda umur tanaman, maka semakin besar persentase kehilangan hasil yang ditimbulkan,” katanya.

 

Perhatikan juga kondisi klimatologis daerah. Pasalnya, puncak populasi wereng hijau terjadi pada 1,5-2 bulan setelah curah hujan mencapai puncaknya. Saat populasi wereng hijau mencapai puncaknya, tanaman padi yang masih muda atau berumur 21-35 hari setelah tanam sangat peka terserang tungro. Dengan demikian waktu tanam yang tepat adalah 30-45 hari sebelum puncak curah hujan atau pada saat curah hujan mencapai puncaknya.

 

“Dinas Pertanian, khususnya daerah yang endemik tungro pastinya mempunyai pola sebaran populasi hama sedang tinggi-tingginya, termasuk tungro. Saat itulah sebaiknya gunakan varietas tahan tungro untuk bisa menghasilkan padi berkualitas,” tutur Mulyadi. Gsh/Ditjen PSP

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162