Loading...

Ketika Gerakan Hemat Air Mulai Jadi Pembicaraan di Desa

10:46 WIB | Sunday, 20-May-2018 | Sarana & Prasarana, Non Komoditi | Penulis : Julianto

 

 

Kondisi cuaca yang makin sulit diprediksi menjadikan pertanian Indonesia terkena dampak yang cukup besar. Petani menjadi tak mudah memprediksi musim hujan dan kemarau.

 

Akhirnya banjir dan kekeringan yang melanda lahan sawah menjadi bencana yang sulit dihindari petani. Pemerintah berupaya membantu petani dengan berbagai antisipasi. Misalnya menyediakan kalender tanam agar petani tak ‘tertipu’ kondisi iklim.

 

Bantuan infrastruktur seperti pembuatan embung dan perbaikan irigasi pun pemerintah gelontorkan agar petani bisa terus berusaha tani di berbagai kondisi alam. Satu lagi adalah mengkampanyekan Gerakan Panen Air. Targetnya bagaiman menahan air hujan agar tidak langsung mengalir ke laut.

 

Upaya yang pemerintah lakukan itu kini mulai berbuah hasil. Direktur Institut Agroekologi Indonesia (INAgri), Syahroni minilai pemerintah berhasil mensosialisasikan pentingnya mengelola sumberdaya air, sehingga terhindar dari kebanjiran pada musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. "Sekarang semua perangkat desa dan petani di desa selalu membicarakan embung untuk memanen air," katanya.

 

Bahkan seringkali masyarakat secara mandiri membangun embung setelah memahami peran penting infrastruktur tersebut bagi usaha pertanian. "Memang idealnya pemerintah hanya sebagai katalisator, selanjutnya masyarakat yang harus mandiri," ujarnya.

 

Masyarakat desa kini juga mulai melirik dam parit sebagai alternatif jaringan irigasi yang biayanya lebih terjangkau. Kementan juga dinilai Syahroni sukses memberi model dam parit di sentra-sentra di Jawa sehingga diikuti daerah lain. "Ini berkat keberhasilan Kementan menggandeng kementerian lain seperti Kemendesa dan Pengembangan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi serta Kementerian PUPR," tuturnya.

 

Terbuka Terapkan Budidaya

 

Dengan keberhasilan tersebut, Syahroni melihat, petani juga lebih terbuka menerapkan sistem budidaya pertanian hemat air.  Sebut saja teknologi SRI dalam budidaya padi yang hemat air. Di lapangan seringkali SRI dikombinasikan dengan sistem Jarwo Super yang dikembangkan Litbang Pertanian. "Prinsipnya petani saat ini mulai cerdas menghemat air," kata Syahroni.

 

Menurut Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi, M.Agr, sosialisasi pemanfaatan sumberdaya air yang lebih hemat untuk petani memang gencar dilakukan sejak Presiden Joko Widodo memberi arahan agar dana desa dialokasikan untuk mendukung kegiatan pertanian.

 

Menurut Dedi, program Upsus yang melibatkan TNI juga membuat percepatan perbaikan jaringan irigasi yang rusak cepat ditangani pemerintah pusat dan pemerintah daerah. "Kini yang lapor irigasi rusak bukan hanya petani, tetapi juga para Babinsa sehingga macetnya birokrasi dapat diterobos sejak 3 tahun belakangan," kata Dedi.

 

Dedi menyebut banyak jaringan irigasi di pelosok Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah kembali dapat berfungsi setelah program Upsus berjalan. Yul

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162